Selasa, 28 Juli 2009

Islam Masuk Indonesia

1) Jaman Majapahit "SERAT DARMOGANDUL" oleh Laurent

2) Jaman Pajajaran oleh wachdiejr

3) Mohtar Lubis : Islam masuk Indonesia secara damai ?

4) Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak
oleh: Batara R. Hutagalung

5) KERIS: lambang peradaban Melayu (pra-Islam) yg dihancurkan Islam, oleh : Orang Melayu, Dr Fachdie Noor

6) Ulasan tentang Buku VS NAIPAUL, 'Beyond belief : Islamic Excursions Among the Converted Peoples. In the Land of Converts: An Islamic Journey'

7) Jihad di Lombok dan Bali

Nuansa masuknya Islam ke Indonesia ada pada Serat "Darmo Gandhul"

Tidak pernah diceritakan dalam sejarah, saat kita di Sekolah dahulu, bahwa masuknya Islam ke Tanah Jawa ternyata menyimpan cerita yang sungguh luar biasa kasarnya.

Kejadian tersebut ternyata terekam dalam Serat Darmo Gandhul. Dalam serat yang aslinya berbahasa Jawa Kuno, dipaparkan perjalanan beberapa wali, juga hambatan dan benturan dengan Budaya, Agama Lokal, dan Agama-agama Pendatang yang sudah lebih dahulu ada di tanah Jawa ketimbang Islam.

Penulis serat ini sendiri tidak menunjukkan jati diri aslinya. Hal ini, disebabkan kondisi yang tidak aman, jika penulis memberikan indentitas aslinya. Tetapi, dari gaya tulisannya, dapat ditafsirkan penulis serta tersebut adalah Ronggo Warsito.

Ia menggunakan nama samaran Ki Kalam Wadi, yang berarti Rahasia atau Kabar Yang Dirahasiakan. Ditulis dalam bentuk prosa dengan pengkisahan yang menarik. Isi Darmo Gandhul tentu saja mengagetkan kita yang selama ini mengira bahwa masuknya agama Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai (dibawa oleh saudagar2 penipu), dan seolah tanpa gaya-gaya kebiadaban perang seperti di negeri lahirnya Agama Islam.

Mengungsinya para pemeluk Hindu dan Budha ke berbagai wilayah, misalnya ke Pulau Bali, ke kawasan pegunungan dan hutan rimba, adalah salah satu pertanda bahwa mereka menghindari tindakan pembantaian massal oleh sekelompok orang yang ingin meng-Islam-kan P Jawa.

Dengan versi singkat Darmo Gandhul yang dirangkum dari Tabloid Posmo terbitan Surabaya. Dapat lebih mudah dipahami oleh pembaca yang awam sekalipun, Posmo menyuntingnya disana-sini. Yang menjadi catatan, kita harus kritis menyikapi isi cerita yang mungkin juga sangat tendensius ini.

Isi dari serat ini rasanya masih relevan dikaitkan dengan zaman sekarang, dimana mulai bermunculan kelompok fundamentalis Islam, terorisme yang mengatas namakan agama, dan juga kelompok-kelompok yang bermimpi untuk mendirikan kekhalifahan Islam di negeri ini.

Tokoh2 terkait:

Para penulis :
- Ki Kalam Wadi - Penulis Serat
- Raden Budi - guru Ki Kalam Wadi
- Darmo Gandhul - murid Ki Kalam Wadi

Para pelaku :
- Prabu Brawijaya - Raja Majapahit terakhir, sangat menyesali atas hilangnya sifat dan sikap Budi Luhur putranya Raden Patah YTPHN, karena ajaran Agama Pendatang. Yang pada akhirnya, dengan tega menghianati dan menggulingkan dirinya dari tampuk kepemimpinannya, demi memuluskan penyebaran Agama Islam

- Putri Campa (Dwarawati? Dara Petak?) - permaisuri Prabu Brawijaya
dari Cina yg memperkenalkan Islam pada Pabu Brawijaya, yang kemudian disesali oleh Prabu Brawijaya

- Sayid Rahmad - kemenakan Putri Campa (Sunan Ampel) yang pada akhirnya diberi ijin Prabu Brawijaya untuk menyebar Islam di Jawa

- Sayid Kramat - Sunan Bonang, tokoh licik yang mengakibatkan permusuhan antara Prabu Brawijaya dengan Puteranya Sendiri ("Raden Patah Yang Tak Punya Hati Nurani"). Ia-lah yang mengajarkan "Raden Patah YTPHN" untuk membenci ayahnya sendiri, yang sesungguhnya sudah mengajari dan menempatkannya dirinya sebagai Adipati Demak.

Dari kutipan buku 'Suci' Islam :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pelindung-pelindungmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung-pelindungmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. [9.24]

(Pernyataan diatas persis seperti pernyataan dalam teori-teori Ideologi, di luar ideologinya adalah musuh - Pertanyaannya; ini Agama buatan Tuhan Yang Maha Esa atau buatan Manusia, koq pola pikirnya, pola pikir Manusia)

- Raden Patah YTPHN (Babah) - putra Prabu Brawijaya, dikenal juga sebagai Adipati Demak/Senapati Jimbuningrat/Sultan Syah Alam Akbar Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak/Sultan Adi Surya Alam di Bintoro. Putera Lalim yang membawa kesengsaraan pada Majapahit dan akhirnya, tanah air kita ini.

(Di Sekolah, kita tidak pernah diajarkan bahwa kejatuhan Majapahit sebenarnya diakibatkan oleh kerakusan seorang anak. Paling cuma dikatakan : Majapahit vs Demak)

- Sunan Kalijaga : negosiator licik yang berhasil merebut kembali hati Prabu Brawijaya, setelah Raden Patah YTPHN berpura-pura menyesali perbuatannya. Sunan Kalijaga ini yang menarik Prabu Brawijaya masuk Islam.

Perbuatan Prabu Brawijaya masuk Islam ini kemudian dicela oleh tokoh bijak, Ki Sabdopalon.

Tokoh-tokoh pelaku lainnya :
- Raden Kusen (Raden Husen/Raden Arya Pecattanda) - saudara kandung Raden Patah YTPHN(lain ayah)
- Ki Bandar - sahabat Sunan Bonang
- Bandung Bondowoso
- Nyai Plencing - dedemit
- Buta Locaya - Raja Dedemit (mantan Patih Sri Jayabaya)
- Ni Mas Ratu Pagedongan (Ni Mas Ratu Angin-Angin)
- Kyai Tunggul Wulung
- Kyai Patih
- Syech Siti Jenar
- Tumenggung Kertosono
- Sunan Giri
- Arya Damar - Bupati Palembang
- Patih Mangkurat
- Setyasena - Komandan Pasukan Cina Islam
- Bupati Pati
- Adipati Pengging
- Adipati Pranaraga
- Sabdo Palon
- Naya Genggong

Minggu, 26 Juli 2009

The benefits of conflict in West Papua for Benny Wenda

It is very interesting how the benefits of conflict may also take on different forms as follow: Economic profits Political power Psychological pleasure

A trustful sources from Oxford shared a shocking information about how Benny Wenda took a lot of benefits from false story about conflict in West Papua.
o Economic profits can be exploited by Benny Wenda by sucking British Taxpayer Money through his claim as an asylum seeker. Living in UK is very difficult, so there is no other way than maintaining conflict in West Papua. Furthermore, after several years enjoying free lunch from British Taxpayer money, Benny Wenda can not afford to loose the opportunity of raising his children in UK. Through the illicit fund raising by telling lies to British citizen, Benny Wenda successfully transform his mask from an asylum seeker pretender to a self exile leader of Papuan people in UK. He also equivocates to British Parliamentarians about the latest situation in West Papua, so he can control British Parliamentarians as his supporters.
o Political power. The self claim Papuan Leader Benny Wenda is a great pretender by playing innocent handsome cunning face. By doing so, British people feel pity and favour him as a victim of the most demonic government of Indonesia. Benny Wenda cleverly creates a justification for help because of Indonesian political repression.
o Psychological pleasure. The world can read clearly the intention and ambition of Benny Wenda as the future President of West Papua. It is more to conflict’s most perverse benefits, which can translate into a feeling of superiority and a messianic certitude regarding one’s actions.Here is the innocent face of liar who proclaim himself as the only Papuan leader who care about the future of West Papua.

The more democratic Indonesia, the more Benny Wenda affraid of loosing his grip in UK. That is why he is not patient enough to see the dynamic of democratization in Indonesia and West Papua. By seeing more and more Papuan involve in the local autonomy government, he is panic so he pushes the creation of International Parliamentarians for West Papua and soon the International Lawyers for West Papua in order the increase the tension in West Papua. It seems that Benny Wenda achieves a success, so he can save his ass temporarily. No matter how cunning Benny Wenda is, someday British citizens especially those who live in Oxford, Essex, Exeter and London will realize that Benny Wenda is true liar.

Sabtu, 25 Juli 2009

Baru Ku Sadari - Jam 19.00 s/d Jam 21.30 adalah Jam Perusakan Nilai-nilai Budaya Bangsa

Beberapa hari yang lalu, ketika saya baru pulang pukul 19.15 dari kantor. Saya melihat Ibu dan saudara-saudaraku, sedang asik menonton sinetron pada sebuah siaran TV swasta.

Sebentar saja saya menonton acara tersebut, saya sudah melihat adegan-adegan yang menggambarkan komunikasi keluarga yang tidak sehat.

Kontan saja saya protes untuk mengganti, ke saluran TV lainnya. Tetapi, ternyata jam 19.00 hingga jam 21.30 ini, hampir seluruh TV swasta (non Berita), berlomba menyiarkan nilai-nilai yang dahulunya tidak kita kenal, seperti konflik-konflik rumah tangga, baik konflik rumah tangga gaya USA maupun konflik rumah tangga gaya Arab Saudi.

Bagi Anda yang masih menginginkan memiliki keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya peninggalan Nenek Moyang, saya menghimbau untuk tidak sering-sering menonton acara jam 19.00 s/d 21.30.

Keutuhan nilai-nilai leluhur kita, adalah tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya.

Copy semua di sini dahulu

Kamis, 23 Juli 2009

Republic of West Papua

The Republic of West Papua is a separatist-proposed state lead by Benny Wenda that would give empty hope to the people of Western New Guinea (the Indonesian provinces of Papua and West Papua).

The Republic of West Papua was never declared even during the period of the withdrawal of the Dutch in 1963, but the act of free choice decided by West Papuan leaders to integrate to Indonesia

On July the 1st, 1971, after the free referendum held by the United Nations, the separatist Free Papua Movement unsuccessfully tried to proclaim Republic of West Papua again.

On 14 December 1984 the Republic of Great Melanesia or Melanesia Raya was self proclaimed, and no countries in the world recognize it. The Fourteen Stars Flag of the Great Melanesia which was created by Nicolaas jouwe hoisted.

The Great Melanesia conceptor and Proclamator Dr. Thomas Wapai Waiggai was arrested for instigating great communal conflict, and sentenced to 20 years in prison, shared the cell at Cipinang Prison in Jakarta with East Timor’s Fretilin Leader Kay Rala Xanana Gusmão. He died in prison within two years, suspected to be poisoned (if this accusation true, under Indonesian law, the case should be reopened for justice). There is no such law to punish people to death only because of treason act, especially if it is only flying flag (it might happened during the military autocratic system in Indonesia).

Unclear concept of “tribal democracy” has been proposed by Benny Wenda of the Koteka Tribal Assembly Council or Demmak (Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka) and Koteka tribes to get political power over 250 different ethnic groups in Papua. However, Benny Wenda failed and joined his brother Mathias Wenda (Free Papua Army) to terrorize West Papua people.

Benny Wenda all togetehr with the Free Papua Army failed to get support from the people, sohe tried something more attractive by killing a security officer and then blame it to the Police. He was arrested and then he could manage to run by the help of corrupt prison officers.

Demmak which was established in 1999, as a confederation of Koteka Tribes, united and organised under a General Assembly Council. Sem Karoba one of Benny Wenda’s followers says, “Tribal Democracy for West Papua is not a new idea or concept at all. It is just the written explanation and presentation of the existing system of governance that already exist in West Papua and Melanesia in general since the time immemorial, practiced daily even today.” Karoba just tries to formulate the tribal system of governance and making it presentable and understandable to the world’s democratic society. In other words, tribal democracy is a tool of controlling different ethnic groups by cooptation and in reality there is no freedom at all.

The real democracy was introduced in West Papua after the reform movement in Indonesia 1998. Now West Papua and Papua provinces of Indonesia are managed by West Papuan leaders choosen by the people through the process of fair and open election.

Why then I am talking about Republic of West Papua? It is simply to remind all Papuan people and the world that there are many dangerous people like Benny Wenda who always talk about the rights of West Papuan, but actually he doesn’tt care which way is the best for West Papuan. All he cares is only to get power, money and sympathy, so he could survive in his difficult time in the United Kingdom.

PT Freeport bus convoy ambushed on way to Tembagapura

Timika (ANTARA News) - Unidentified gunmen on Wednesday ambushed a convoy of 12 buses carrying PT Freeport workers to their work place with unverifiable reports saying a number of people were hurt. The convoy with police and military escort was on its way from Timika to Tembagapura and the ambush happened at a point between Mile 52 and Mile 53 at 11:15 local time. Because of the incident, the convoy was forced to return to its starting point at Mile 50.

According to unofficial sources, a number of people in the bus convoy were hurt by the gun men`s fire but local security officials were not available to give further details. The buses were carrying hundreds of mostly male PT Freeport workers who had boarded the vehicles at a terminal at Mile 50 to be transported to Tembagapura. One of the workers said they were happy to return to work although they remained uncertain about security conditions on their way to Tembagapura."We were told today to return to Tembagapura by bus in a convoy, guarded by military and police personnel," said Anto, one of the workers.

Anto said PT Freeport had prepared about 12 buses to transport them to Tembagapura but he was not certain what time the buses would leave.On Saturday (July 11), three persons, including one worker of the US gold and copper mining company PT Freeport, was killed in the Freeport concession area in Papua.

Drew Nicholas Grant, an Australian national who worked for PT Freeport, was shot dead by unknown gunmen at Mile-53 on Saturday (July 11). Drew Grant was shot in the chest and neck. On Sunday (July 12), there were two armed attacks respectively at Mile 51 and Mile 2, which killed Markus Rante Allo, a security guard of PT Freeport. Then on Monday (July 13), Brigadier I Marson, a Papua police officer, was found dead at mile 52 road connecting Timika and Tembagapura, Mimika District, Papua Province, after reportedly gone missing earlier.

Source : Thursday, July 23, 2009 00:44 WIB | National |
(ANTARA/Stringer/*)

7 Keajaiban Alam Dunia






Taman Nasional
Komodo Melaju ke Babak Final

Mega Putra Ratya - detikNews

foto: new7wonder.com

Jakarta - Menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia ketika Taman
Nasional Komodo (TNK) berhasil menjadi salah satu finalis Kampanye "New 7
Wonders of Nature". TNK dinilai berhak melaju ke tahap final setelah
menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara.
 
Komodo Island





"Pada tanggal 21 Juli 2009 pukul 12.07 GMT (19.07 WIB), New 7 Wonders Foundation telah mengumumkan TNK sebagai salah satu dari 28 finalis yang berhak untuk melanjutkan ke tahap final (Tahap III)," bunyi rilis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang diterima detikcom, Rabu (22/7/2009).

Masyarakat Indonesia diharapkan memberi dukungan sebanyak mungkin agar Taman Nasional Komodo di Flores, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

"Mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk berpartisipasi aktif melakukan pemilihan, agar terpilih sebagai salah satu dari 'Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam' yang akan ditentukan pada tahun 2011," begitu bunyi seruan tersebut.

Ayo tunggu apa lagi, pilih lagi untuk tahap final ini....sekarang saatnya melakukan sesuatu yang nyata untuk mengharumkan nama negeri ini dan menunjukan pada dunia Indonesia kita yang sebenarnya.

Bagi anda yang akan memilih dapat melakukan dengan dua cara, Pertama memilih dengan cara online melalui website http://www.new7wond ers.com. Kedua, memilih melalui telephone (SLI) dengan menekan +41 77 312 4041. Setelah pesan selesai dan terdengar bunyi beep tekan kode 7717 untuk memilih Taman Nasional Komodo.

Dukung Taman Nasional Komodo.. Dukung Indonesia-mu.

Source : detik.com

Proyek Bersih Parpol Hanya Slogan - AntiKorupsi.org