Tampilkan postingan dengan label Pembodohan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembodohan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

PKS Salah Hitung

Menentang Keputusan Koalisi adalah sebuah penghianatan, apalagi itu disampaikan di hadapan rakyat pemilih.
Mengapa PKS membelot, sebagai orang awam mudah saja hitung-hitungannya. PKS mengira ini sudah saatnya terjadi 98 kembali, sehingga kalau mereka Nikung duluan, mereka akan bisa sampai finis duluan.

Tapi ternyata insvestor Demo kurang Nafas, sehingga Demo itu tidak berlanjut, walaupun terdapat pasal karet yang dapat kapan saja di-implementasikan oleh Pemerintahan yang Curang ini.

Memang ada Pepatah melawan Ular harus jadi Ular. Tetapi ingat, kata kiasan itu hanya berlaku untuk orang-orang Jahat dan Penghianat. Bukan untuk para wakil rakyat.

Kalau mau fair, pada saat yang bersamaan seharusnya PKS juga langsung menarik orang-orangnya yang duduk di Pemerintahan. Inilah orang-orang yang tidak memiliki Fatsun Politik.

Sabtu, 03 September 2011

Penyebar Foto Nakal Syahrini Diancam 6 Tahun Penjara

Jakarta Siapakah penyebar foto nakal Syahrini? Sampai saat ini pertanyaan tersebut masih belum terjawab. Namun ancaman bagi penyebar foto tersebut nyata adanya.

Kadiv Humas Polres Jakarta Selatan, AKP Aswin membeberkan, bahwa sang penyebar foto nakal Syahrini akan dikenakan pasal 45 ayat 1 UU RI NO.11 ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Pelaku diancam hukuman 6 tahun penjara serta denda Rp 1 miliar jika terbukti bersalah.

"Iya benar mereka (Syahrini dan Aisyahrani) telah membuat laporan tersebut pada tgl 14 mei ke sini, di situ pelaku penyebar akan dikenakan pasal 45 ayat 1 UU RI NO.11 ITE, pelaku bisa dijerat pasal itu," beber AKP Aswin kepada detikhot, Rabu (18/5/2011) malam.

Kepada Polisi, teman duet Anang itu mengaku tidak rela foto pribadinya disebar pelaku dengan dasar pencemaran nama baik.

"Ya alasannya pelapor tidak rela karena fotonya disebar dengan alasan pencemaran nama baik," tandasnya.

Sumber : http://hot.detik.com/read/2011/05/19/072055/1642097/230/penyebar-foto-nakal-syahrini-diancam-6-tahun-penjara

Penyebar Video Ariel Bagaimana???

Pakai Uang ya????????????????????????????????????????????




Rabu, 10 November 2010

Zainudin MZ dan Aida

Awalnya saya berfikir, kalau Zainudi MZ paling tidak menggunakan "Pencemaran Nama Baik" kalau tidak menuntut balik.
Dengan digantinya nama "Tim Pembela ... Zainudin MZ" menjadi "Tim Mediasi ... Zainudin - Aida" memberikan makna lain bagi kita semua.

Tim Pembela mempunyai makna: "Membela Yang Benar". Dengan diganti namanya menjadi Tim Mediasi????

Anak kecil juga tahu...... siapa ya yang salah?????

Kalau ber-apologi, bahwa manusia adalah tempatnya salah. Maka jalan keluarnya, kalau masih jadi manusia biasa, jangan suka menasehati orang lain (Khotbah), karena Anda akan lupa menasehati diri Anda sendiri.

Kasihan donk umatnya, mengagumi orang yang salah. Ini berlaku untuk semua peng-khotbah dari semua aliran agama manapun.

Selanjutnya, semoga kita semua tidak terkecoh. Amin amin amin...

Senin, 11 Januari 2010

Ketika Yang Nabrak Korban adalah Polisi

Hehehe, setahu saya kalau kita lagi jalan dan kita nabrak, dengan alasan apapun pasti kita yang salah. Apalagi kalau si korban sampai mati.

Setahu saya ada teori, jarak antara kendaraan sisi depan kita dengan sisi belakang kendaraan di depan kita, dimana ada perhitungannya dengan kecepatan kendaraan yang kita kendarai.

Juga jarak itu, mencakup jarak sisi samping kendaraan dengan sis samping kendaraan di samping kita.

Kalau sampai kecelakaan di depan kendaran itu, tidak bisa dihindari, yang salah siapa ya?

Istri Tewas & Suami Dipenjara
Lanjar Tak Bisa Diproses Hukum, Harus Dibebaskan
Didit Tri Kertapati - detikNews
Jakarta - Polisi menetapkan Lanjar Sriyanto sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan istrinya tewas. Namun, langkah yang dilakukan polisi tersebut dinilai kurang tepat. Seharusnya Lanjar tidak bisa diproses hukum.

"Sebetulnya kesalahan tidak ada, karena istrinya tewas ditindas sama orang lain (mobil Isuzu Panther). Kepada suami tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena dia juga jadi korban dalam kasus ini," ujar pakar hukum pidana Rudi Satrio kepada detikcom, Selasa (12/1/2010).

Menurut Rudi, Lanjar memang menabrak kendaraan yang ada di depannya namun dia bukan penyebab kematian istrinya. "Seharusnya pada posisi tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan," jelas Rudi.

Apakah berarti pengemudi Panther yang harus bertanggung jawab atas kematian istrinya?

"Mereka juga tidak bisa diminta tanggung jawab, karena dalam keadaan mendadak seperti itu. Kan bukan kehendak dia untuk seperti itu," jawab Rudi.

Rudi mengatakan, solusi terbaik untuk menyelesaikan kasus ini adalah dengan membebaskan Lanjar dari jerat hukum yang ditimpakan kepada dirinya.

"Lebih baik semuanya dibebaskan, daripada harus diminta pertanggungjawaban. Karena tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban pidana," tandas Rudi.

Lanjar, dalam kecelakaan tersebut, sebagai pengendara motor dinilai lalai sehingga terjadi kecelakaan karena menabrak mobil di depannya. Dalam kecelakaan itu, istri Lanjar, Saptaningsih, terpental ke tengah jalan dan kemudian terlindas mobil Isuzu Panther yang datang dari arah depan.

Sedangkan pengendara mobil Isuzu Panther yang menabrak dan menyebabkan tewasnya Saptaningsih tidak bisa dikenai status tersangka dengan dalih yang sama yaitu karena kelalaian.

Sumber : Detik.com

Melupakan Sejarah Demi Kepentingan Koruptor

Jam 7.34 pagi saya menonton Metro TV,
Saya kaget besar, ketika komentatornya mengkritisi Menteri Hukum dan Ham, untuk mundur karena melihat kenyataan adanya kamar penjara yang seperti hotel.

Kita sama-sama tahu bahwa pemberantasan korupsi itu baru gencar dilakukan pada 5 tahun belakangan ini, sehingga tidak mengherankan kalau korupsi itu sudah begitu mengguritanya.

Sementara pembongkaran korupsi di lembaga pemasyarakatan, baru dilakukan oleh Menteri yang saat ini menjabat. Ingat sejarahnya, belum pernah ada Menteri yang mau membuka kebobrokan di dalam lembaga pemasyarakatan.

Di sini terlihat bahwa si komentator berpihak kepada koruptor, agar dapat terus melanggengkan aksi korupsinya. Karena jika menteri yang justru mau memberantas mafia di lembaga pemasyarakatan tersebut diganti, maka menteri baru yang mungkin datang dari partai yang se-afiliasi dengan TV tersebut. Dimana pada zaman pemerintahan partai tersebut, koruptor memang dianak emaskan.

Rabu, 30 Desember 2009

Agen Intelijen Asing Harus Ubah Gaya

Dalam kehidupan demokratis, seorang harus menempatkan diri sebagai orang yang kritis dan mau dikritisi.

Tidak seperti penulis buku yang maunya meng-kritisi Presiden, dengan data-data sampah, tetapi ketika dirinya dikritisi, bukan malah legowo, justru memukul orang yang meng-kritisinya.

Tentang banyaknya orang yang "double standart" di negeri ini, mungkin tidak mengherankan bagi saya. Walaupun saya sedih, karena ini dapat mempengaruhi pikiran orang-orang yang mendengarkan berita dan males membaca.

Yang lebih menyedihkan bagi saya adalah, kita sama-sama tau, pada era Soeharto, orang-orang yang dapat mengkritisi, dan mendapatkan tanggapan negatif dari penguasa, akan mendapatkan uang dari badan-badan intelijen asing, yang besarnya berbanding menaik, sesuai dengan panasnya suhu politik yang dapat dibuat oleh orang-orang ini.

Tetapi mereka-mereka para Agen Intelijen Asing (yang melacurkan diri pada intelijen negara lain), lupa bahwa zaman sudah berubah. Sehingga orang sekarang lebih sulit dibohongi dengan gosip politik kacangan, seperti yang baru dilansir baru-baru ini.

Saya menghimbau, bagi para pelacur-pelacur tersebut, ayolah kita bangun bangsa ini dengan membongkar semua kasus dengan data-data yang memang benar-benarvalid.

Jumat, 11 Desember 2009

Pola Penegakan Hukum Berkepentingan Bisnis

Sebagai orang yang awam dalam hukum, saya berfikiran bahwa penjahat adalah orang yang melakukan kejahatan itu sendiri, sedangkan orang yang kena dampak dari perbuatan jahatnya adalah korban.

Diantara subjek dan objek tersebut, mungkin masih ada pelaku pendukung.

Menyikapi kejadian sehari-hari, kita gamblang melihatnya, bahwa yang lebih banyak ditangkap dan diadili adalah justru objek dan pendukung. Pertanyaannya ????

Kalau pelaku utama yang ditangkap, maka nggak ada kerjaan (objekan) penegak hukum tersebut, seperti persis kita dengar bersama rekaman Anggodo di MK.

Contoh yang paling gampang dilihat adalah, pada korban Narkoba yang lebih mendapat perhatian dari pihak penegak hukum.

Secara logika, semakin banyaknya korban pengguna narkoba ditangkap (yang seharusnya hanya sebagai saksi), semakin banyak pula informasi yang didapat oleh pihak penegak hukum untuk menangkap pengedar narkoba itu sendiri.

Lagi-lagi, kalau pengedarnya sudah habis, maka objekannya juga sudah habis.

Di negara maju, biasanya pengguna atau yang disebut korban selalu dilindungi, dan yang dikejar-kejar adalah pengedarnya.

Wakakakak

KPK aja sudah hampir amblas, karena KPK merebut objekan gede, khusus buat petinggi-petinggi.

Biar adil, kasus narkoba yang melibatkan petugas lapangan, tetap pada polanya, sehingga adilah bagi-bagi rejeki yang tinggi dapet gede, yang rendah dapet recehan.

Bisnis recehan kalau menangkap pecandu yang bukan orang kaya.

Huahuahua

Jadi adil adalah seperti itu????

Senin, 07 Desember 2009

Dukung Ibu Prita dan Ibu Juliana

Ibu Prita yang sharing dengan teman-teman milis harus membayar 204 juta, karena dianggap pencemaran nama baik. Padahal yang apa yang diraskan oleh ibu Prita bukan karangan belaka.

Ibu Juliana yang anaknya "Jared" mengalami kebutaan karena kesalahan penanganan, justru ditawari 1.5 milyar (TV One pagi).

Baik ibu Prita mapun Ibu Juliana adalah dua orang ibu-ibu yang dizolimi oleh sistem keadilan di Indonesia.

Saya sepakat dengan himbauan bapak Imam Prasojo, yang mengatakan untuk tidak mendatangi rumah sakit yang seperti itu.

Minggu, 06 Desember 2009

"Koin untuk Prita"

Gerakan sosial "Koin untuk Prita", mencerminkan adanya kepasrahan rakyat kecil Indonesia, terhadap adanya keadilan yang hanya berlaku bagi masyarakat yang kaya saja.

Uang "Koin untuk Prita" tersebut adalah simbol penindasan bagi rakyat kecil. Jadi jika nanti uang receh tersebut diterima oleh pihak penuntut, dan disalurkan kepada sebuah panti... maka terhinalah panti itu sendiri.

Bagi pengurus panti, atau bekerja sebagai pelaku sosial, tentunya memiliki empati yang tinggi terhadap penindasan. Layaknyalah, tidak ada satu pantipun yang mau menerima saluran dana dari hasil tuntutan kepada Prita.

Yang perlu diingat, jika ini terjadi, pihak penuntut hanya menggunakan panti sebagai alat untuk membersihkan pola pikir kekejiannya.

Sabtu, 25 Juli 2009

Baru Ku Sadari - Jam 19.00 s/d Jam 21.30 adalah Jam Perusakan Nilai-nilai Budaya Bangsa

Beberapa hari yang lalu, ketika saya baru pulang pukul 19.15 dari kantor. Saya melihat Ibu dan saudara-saudaraku, sedang asik menonton sinetron pada sebuah siaran TV swasta.

Sebentar saja saya menonton acara tersebut, saya sudah melihat adegan-adegan yang menggambarkan komunikasi keluarga yang tidak sehat.

Kontan saja saya protes untuk mengganti, ke saluran TV lainnya. Tetapi, ternyata jam 19.00 hingga jam 21.30 ini, hampir seluruh TV swasta (non Berita), berlomba menyiarkan nilai-nilai yang dahulunya tidak kita kenal, seperti konflik-konflik rumah tangga, baik konflik rumah tangga gaya USA maupun konflik rumah tangga gaya Arab Saudi.

Bagi Anda yang masih menginginkan memiliki keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya peninggalan Nenek Moyang, saya menghimbau untuk tidak sering-sering menonton acara jam 19.00 s/d 21.30.

Keutuhan nilai-nilai leluhur kita, adalah tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya.

Copy semua di sini dahulu

Rabu, 08 Juli 2009

JK - Wiranto Menanggapi Quick Count

Ketika JK ditanyakan tentang quick count, semestinya beliau konsisten dengan jawabannya bahwa : "Lebih Cepat Lebih Bae"

Disitulah teruji konsistensi dari jargon yang diusungnya selama ini....

Karena metode quick count sendiri sebenarnya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.


Rabu, 08/07/2009 11:43 WIB
Tim JK: Tak Beradab Umumkan Quick Count Saat Pilpres Berlangsung
Moksa Hutasoit - detikPemilu
Jakarta - Kubu JK-Wiranto bereaksi keras terhadap penayangan quick count dan exit poll di sejumlah televisi. Penayangan itu dinilai tidak etis saat pemilihan di sejumlah daerah masih berlangsung. ( mok / iy )

Source : http://pemilu.detiknews.com/comment/2009/07/08/114306/1161218/700/tim-jk-tak-beradab-umumkan-quick-count-saat-pilpres-berlangsung

Selasa, 07 Juli 2009

MOS

Masa Orientasi Siswa
Mungkin memang tidak perlu dihapuskan, karena melihat dari konsep "Judulnya" yang sudah benar, tetapi penerapannya yang hingga kini selalu salah.

Dalam benak akal sehat "Masa Orientasi" adalah mengenal hal-hal yang nantinya akan dihadapi dalam masa belajar siswa di sekolah pilihannya.

Sehingga kakak-kakak kelas, seharusnya memperkenalkan kecanggihan sekolahnya, seperti bagaimana mereka harus disiplin di ruang laboratorium, bagaimana memperlakukan peralatan sekolah mereka, seperti lab komputer, buku-buku perpustakaan, dlsb.

Selain itu, para kakak-kakak kelas menunjukan prestasi yang pernah diraih oleh sekolah tersebut.

Dengan demikian, nantinya mereka (para siswa baru) akan mempunyai "Rasa Tanggung Jawab" terhadap perawatan barang-barang milik sekolah, memiliki disiplin belajar.

Bukan seperti MOS peninggalan zaman Belanda, dimana senioritas dapat berlaku sebagai penjajah. Sekarang ini kita tidak lagi berorientasi pada senioritas, tetapi lebih pada kemampuan seseorang.

Mengenai hormat menghormati, itu adanya di pelajaran "Budi Pekerti", dimana dalam hidup sehari-hari, tidak saja yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, tetapi sebaliknya yang lebih tua pun juga harus menghormati yang lebih muda. Disamping kemampuan seseorang memiliki juga bentuk penghormatan dalam interaksi dari sisi ke-ilmuan.

Masa Orientasi Siswa

Waaaahh,,, ternyata senin besok dah mulai MOS (masa orientasi siswa) yaa??
hahahahaha... emang kalo ngomongin MOS atau Mabis tuh gak ada abisnya... seru bangeett

Jadi inget pas MOS SMA dulu... kuncir 2 merah-putih! yang ini biar kita kliatan lebih rapih tp juga imut kaya anak desa yang cinta Indonesia.. pita juga jadi merah putih...hahaha!
Bawa tas pelastik, katanya c untuk kebersamaan.. mau kaya ataupun kurang mampu dianggap sama dimata sekolah gak dibeda-bedakan! ama topi wisuda.. berharap bisa lulus dari sekolah ini setelah 3 tahun belajar.. dan juga biar kita gak kepanasan pas disuruh ngumpul dilapangan!
Gak lupa papan nama...waktu dulu c pake karton ijo.. hahahaha!! gak lupa juga bawaan lain seperti minum, roti, mie, premen yang pake cap aneh-aneh...

Tp dalam acara ini pun Panitia sekaligus mengadakan baksos! Seperti mie, buku tulis, pulpen untuk diberikan kepada teman-teman yang masih membutuhkan!
dulu c waktu jadi peserta, ngedumel banget nie suruh bawa yang aneh-aneh,, tp ternyata setelah jadi Panitia jadi tau sendiri, apa yang dibawa ya untuk keperluan mereka sendiri.. jd gak masalah c...

Dulu tuh yang paling menegangkan saat adanya TIM DISIPLIN yang sering kita sebut TIM DIS!!
Waaahhh..takut banget deh ama tim ini,, biasanya c senior2 yang sangar mukanya... tp ada juga c kaka senior yang manis tp sok-sok galak,,,,
pokoknya kalo ada TIM DIS ini pada diem deeehh... udah takut aja mau di plonco.. tp gak tuh... cm sangar nya aja yang kaga nahaaaann....

Tahun ke dua dan tahun ke 3 di SMA akhirnya gw yang jadi panitia..... Hohohohohoh!!!!
Seneng rasanya bisa jadi panitia MOS.. tp ya berhubung wajah gw gak nyeremin tp baik hati, murah senyum dan tidak sombong, 2 tahun itu pasti jadi panitia di kelas,, namanya kakak pendamping....
jadi yang paling deket ama anak-nak di kelas... Pas Tim Dis itu masuk ikutan tegang juga c.. apalagi kalo ngeliat wajah anak-anak baru yang nunjukin khawatir dan takut juga...
padahal mah TIM DIS nya gokil-gokil.. sebelum masuk kelas mereka biasanya cekikikan dulu... wakakakaka.... ya, pinter deh acting nya kalo udah masuk kelas mah galaknya minta ampun!!!

Sayangnya gak ada foto-fotonya nie,,, kalo ada makin seru kayaknya...
enaknya jadi pendamping tuh kita bisa lebih kenal deket ama adik-adik kelas, dan setelah MOS berakhirpun kita masih deket aja,, lebih akrab lah,,,
kalo TIM DIS c pasti dihindarin,dan ditakutin!!! Wakakaka....
Tp lama-kelamaan ketauan juga Gokilnya TIM DIS Itu...
dan yang lebih asik saat ngerjain anak-anak yang ULTAH nya pas hari MOS!Kalo gak ampe nangis lom berenti deehh... Lucu jadinya setelah dia nangis terus dia ketawa-ketawa!! hahahahaha...

Saat-saat pengenalan Ekskul juga asik nie,, walaupun ada ditengah lapangan, tp tetep acara ini ditunggu-tunggu!!
Ya, yang paling Heboh pastinya saat pengenalan ekskul Marching band.... dan gw dulu ikutnya ekskul PMR... Asik banget Acara Ini....

Oia, pas hari terakhir MOS Biasanya kita mewajibkan murid baru itu untuk bikin surat suka-dukanya MOS ini, ditunjukan khusus untuk para panitia...
dan setelah evaluasi selesai saatnya pembacaan surat-surat itu....
Wakakakaka,,, opininya lucu-lucu deh... dan disurat itu ada pemilihan kakak TER....
dan waktu itu gw pernah dapet kaka terbaik (ini kebanyakan dikasih ama anak-anak yang gw dampingin) tp kakak terjutek juga ada c...wakakakaka... kalo diluar kelas gw emang sering sok jaim,, dan mungkin dianggapnya jutek kali yah.....
yah,,, masa-masa MOS itu emang merepotkan.. peserta repot, panitia repot.. apalagi kalo ada pihak sekolah yang ngacak-ngacak jadwal.. BT deeehhhh... tp ya tetap menyenangkan!!

Tp sekarang ini masih banyak banget kan MOS yang pake kekerasan,,, ini nie yang bikin citra MOS jadi jelek,, dan ada banyak orang tua juga yang gak setuju.. untuk itu peran sekolah sangat penting untuk mengontrol kakak-kakak panitia nya!! biar gak terlalu ekstrim dalam kegiatan ini,,, pernah juga denger kan kalo Masa-masa MOS ataupun OSPEK sampe menelan korban jiwa! gak banget deehh...

Tp kalo menurut gw c MOS itu gak perlu dihilangkan,, soalnya walaupun ngedumel awalnya pasti nanti jadi kenangan yang indah... Tp juga kudu yang bermanfaat seperti niat awalnya MOS itu tadi untuk mengenal lingkungan sekolah, peraturan sekolah!


Gimana Masa Orientasi kamu???

Sumber : http://blogerkesambet.blogspot.com/

Kamis, 19 Maret 2009

Abdul Hadi - PAN VS Rama Pratama PKS

Jakarta - Maksud hati meminta rekannya mengucapkan istghfar, apa daya justru ucapan sumpah yang diterima. Itulah kenyataan yang harus diterima oleh tersangka kasus dugaan proyek pengembangan dermaga, Abdul Hadi Djamal.

Abdul Hadi meminta rekannya sesama anggota DPR dari PKS, Rama Pratama, untuk istighfar karena dianggap berbohong tidak mengakui pertemuan di Hotel Ritz Carlton.

"Saya bersumpah demi Allah tidak tau tentang pertemuan di Ritz Carlton dan bersumpah tidak menerima sepeser pun uang terkait kasus suap yang menyangkut Pak Hadi," elak Rama Pratama dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis 19 Maret kemarin.
Rama, yang mantan Ketua BEM UI ini justru meminta Abdul Hadi untuk istighfar karena telah melakukan tindakan yang tak patut sebagai anggota Dewan.

"Seharusnya Pak Abdul Hadi yang banyak istighfar karena tertangkap tangan (menerima suap)," sindir Rama. Tak cukup itu, Rama Pratama pun menyiapkan tim pengacara untuk menghadapi tuduhan Abdul Hadi. Somasi pun dilayangkan kepada politisi PAN tersebut.

Tak disangka, Abdul Hadi kemudian meralat pernyataan soal keikutsertaan Rama Pratama pada pertemuan Ritz Carlton. Buru-buru politisi asal Makassar ini meralatnya.

"Saya diingatkan KPK bahwa saya salah sebut. Bukan di Ritz Carlton, tapi di Four Seasons," kata Abdul Hadi tadi malam usai diperiksa KPK.

Tak mau terus berpolemik soal ini, Rama enggan mengomentari pernyataan Abdul Hadi yang terakhir.

"Saya sudah tidak bersedia menanggapi lagi nyanyian AHD. Karena saya tidak mau lagi berpolemik di luar pengadilan. Saya sudah punya tim pengacara dan siap bersaksi jika diperlukan," kata Rama melalui pesan singkatnya kepada detikcom.

Ucapan sumpah Rama memang tidak salah, karena memang ternyata Abdul Hadi meralat pernyataan dia sebelumnya. Tapi untuk yang di Four Seasons, kenapa Rama enggan berkomentar? Atau jangan-jangan memang benar ada pertemuan di Four Seasons.

"Maaf saya akan persiapan untuk kampanye PKS," imbuh Rama.

Sumpah, dalam bahasa Arab disebut dengan istilah qasam. Sumpah digunakan oleh seorang muslim untuk mengikatkan diri telah melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Melanggar sumpah, bagi seorang muslim, akan berimplikasi buruk terhadap hubungan manusia dengan Tuhan.

Siang nanti, Rama Pratama akan berkampanye untuk wilayah Jakarta Timur. Kampanye PKS yang serentak berlangsung di Jakarta hari ini bertema ' Menuju DPR yang Bersih'.
(anw/nrl)

Source : DetikCom

Sabtu, 30 Agustus 2008

Prita Mulyasari - Email Yang Menghebohkan

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

(msh/msh)

Source : http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/30/111736/997265/283/rs-omni-dapatkan-pasien-dari-hasil-lab-fiktif

Senin, 25 Agustus 2008

Logika Bayar Pajak

Iklan Layanan Masyarakat "Yang menguntungkan Pemerintah" - menghimbau rakyat taat bayar pajak!

Belakangan ini sering memakai yargon "Apa Kata Dunia", untuk menyindir orang yang tidak membayar pajak.

Sementara isi pembicaraannya, seolah-olah orang yang tidak membayar pajak itu sudah menikmati fasilitas baik fisik maupun jasa yang tersedia. -

Iklan Layanan Masyarakat "Yang bermanfaat bagi Rakyat" - menghimbau pemerintah menggunakan uang pajak dengan benar????

Sampai hari ini, tidak ada iklan layanan masyarakat yang menghimbau agar rakyat pembayar pajak yang memiliki hak-hak atas pembayarannya tersebut. Agar menggunakannya dengan benar, seperti meminta pengamanan dari Polisi - tanpa dipungut biaya, dlsb.
Proyek Bersih Parpol Hanya Slogan - AntiKorupsi.org