Minggu, 19 Juli 2009

Police set up more security posts along Timika-Tembagapura roads

Timika, Papua - Papua Police have set up more security posts along Timika-Tembagapura roads within the area of US gold and copper mining company PT Freeport Indonesia, the Papua police chief said.Eight new security posts were established in strategic areas, Inspector General Bagus Ekodanto, head of the Papua provincial police, said here on Sunday.

The temporary security posts were made of modified containers and guarded by a joint team of police and military personnel, he said."We get the assistance of two military units from the Military Regional Command (Kodam) XVII Cenderawasih to join the police in protecting PT.Freeport area. We are jointly hunting down the perpetrators who had shot civilians and security personnel over the past week," Ins. Gen. Ekodanto said. Papua police also would continue to probe the case, he said. At least 20 people, including security guards on duty during the shooting incidents, had been grilled by the police.

The Papua provincial police have intensified security precautions for foreigners in Timika, especially in the US mining company PT Freeport Indonesia (PTFI) area, Timika had more foreigners than in other areas in Papua and West Papua provinces, Inspector General Ekodanto said. Since Saturday (July 11), three persons, including one worker of US gold and copper mining company PT Freeport, had been killed and seven others injured. Drew Nicholas Grant, an Australian national who worked for PT Freeport, was shot dead by unknown people at Mile-53 on Saturday (July 11). On Sunday (July 12), there were two armed attacks respectively at Mile 51 and Mile 2, which killed Markus Rante Allo, a security guard of PT Freeport. On Monday (July 13), Brigadier I Marson, a Papua police officer, was found dead at mile 52 road connecting Timika and Tembagapura.
Because of that, PT Freeport has forbidden its employees to travel between Tembagapura and Timika in Papua as of Wednesday (July 15) for security reasons. PT Freeport spokesman, Mindo Pangaribuan, told ANTARA company employees whose weekly day-off fell on Wednesday and were now resting in Timika had been requested for security reasons to stay in Timika and not to go to Tembagapura.Those working in Tembagapura where the company`s gold and copper mines are located were not allowed to go to Timika for their own safety, he said.

The restriction was imposed following shooting incidents by unknown armed groups, including the latest incident at Mile 49 on Tuesday. To optimize the mining company`s operations, employees at Tembagapura had been put on extra working schedules in line with the company`s policy. Meanwhile, House of Representatives (DPR) Speaker Agung Laksono has urged the police to immediately deal with the shooting incidents which killed a PT Freeport employee and a policeman in Papua in order to reveal the motive of the murders.He also urged the police to investigate the motive of the gunmen , whether it was purely criminal or political.

Source : July 19, 2009| National |Antara

Kamis, 16 Juli 2009

Papua Council wants independent investigation into Freeport incident

Kalimat awal

Kalimat berikutnya

The Papua Council Presidium (PDP) has called on the central government to form an independent team to investigate a series of shooting incidents near a gold and copper mine in Papua.PDP secretary general Thaha M. Alhamid said on Thursday the team probing the shootings on the road to Freeport Indonesia's Gresberg mine could include people from the government, security authorities and members of civil society strongly committed to disclosing the truth behind the incidents. "Let's support an independent investigation to find facts, what and who are behind this incident," Thoha told Antara news agency on Thursday.

Five shooting incidents occurred in the past few days along the road between the town of Timika and the Grasberg mine, killing three people: an Australian working for Freeport, a Freeport security guard and a police officer, as well as injuring several other security officers.Authorities initially named Free Papua Organization (OPM) leader Kelly Kwalik as the suspected mastermind of the attacks, but official statements now refer to an armed group of professional marksmen.

The National Police and the Army have deployed officers to investigate the series of shootings and have started to comb the area around the site of the attacks.Indonesian Defense Minister Juwono Sudarsono asked people to refrain from speculating on police rivalry in comments to the Jakarta Foreign Correspondent's Club Wednesday, as quoted by the Associated Press. But he noted that "rouge elements" in the military might have had a hand in the unrest.
Official visits wounded police officers in Timika

Markus Makur , The Jakarta Post , Timika, Papua | Thu, 07/16/2009
Secretary to the Coordinating Minister for Political, Legal and Security Affairs, Lt. Gen. Romulo Simbolon, visited Thursday five police officers wounded during a series of attacks by unidentified gunmen near PT Freeport Indoneisa’s Grasberg gold and copper mine in Mimika, Papua. Papua Police chief Insp. Gen. Bagus Ekodanto accompanied Romulo during the visit at Mitra Masyarakat Hospital in Timika.Romulo denied claims the perpetrators of the attacks were trained soldiers.
Three people, including Drew Nicholas Grant, an Australian employed by Freeport, died in the spate of attacks between Saturday and Wednesday. The five police officers were injured in the latest attack.No gunfight was reported Thursday as Mobile Brigade and counter-terror police personnel continued their manhunt and secured the access road to the mine, preventing Freeport employees from commuting to work. The police have begun wearing bullet-proof vests in anticipation of further attacks.

A number of journalists are waiting for a media conference, in which Bagus and Freeport officials will brief them on the latest developments of the investigation into the attacks

Source : Antara, 07/16/2009 | National

Rabu, 15 Juli 2009

"Selamat Pagi Indonesia Raya; Nasionalisme-Idealisme dan Patriotisme !"

Selamat Pagi Indonesia Raya....

Para sahabat sebangsa dan setanah air...

Penggugatan terhadap "nasionalisme" kembali mengemuka dalam beberapa tahun belakangan ini. Nasionalisme atau "faham kebangsaan", seolah-oleh tampil menjadi kerisauan berbagai kalangan, khusus nya mereka yang selama ini getol menyuarakan penting nya "national character building".

Bicara nasionalisme, tentu akan selalu terkait dengan idealisme dan patriotisme. Ke tiga kata diatas merupakan "faham" yang menggumpal menjadi satu kesatuan. Idealisme tanpa nasionalisme dan patriotisme, atau nasionalisme tanpa idealisme dan patriotisme, atau patriotisme tanpa idealisme dan nasionalisme, identik dengan sayur asam tanpa garam. Hambar rasanya..!

Para sahabat sebangsa dan setanah air...

Idealisme adalah "daya dorong" untuk memperkokoh rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Sebagai bangsa, tentu kita memiliki idealisme. Kalau masa revolusi idealisme bangsa kita adalah memerdekakan bangsa maka setelah Indonesia merdeka, idealisme nya adalah mengisi alam kemerdekaan. Untuk itulah, agar cita-cita Indonesia merdeka sebagaimana yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 dapat sesegara mungkin kita wujudkan, maka kekuatan nasionalisme dan patriotisme mestilah kita simpan dalam "standing position" yang kokoh. Ini penting kita hayati, karena nasionalisme akan tumbuh subur dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, manakala segenap warga bangsa, mampu mengenali dan memahami secara cerdas akan hakekat dasar dari rasa kebangsaan itu sendiri.

Sejati nya nasionalisme, tentu akan ditentukan oleh sampai sejauh mana warga bangsa ini, dapat mengejawantahkan semangat rasa kebangsaan ini dalam kiprah dan kehidupan keseharian nya. Rasa kebangsaan akan selalu "inheren" dengan sikap, tindakan dan wawasan setiap warga negara. Hanya warga bangsa yang mampu melakukan penghayatan yang mendalam dan utuh terhadap hakekat nasionalisme inilah yang akan mampu memberi sumbangsih bagi keajegan suatu bangsa. Ya,,,, nasionalisme boleh jadi merupakan indikator untuk tumbuh nya bangsa yang berdaulat, berjati diri, berkarakter, dan bermartabat !

Para sahabat sebangsa dan setanah air.....

Muncul nya kesan tentang banyaknya anak bangsa yang "melupakan" nasionalisme, memang sebuah citra yang harus kita rubah-arahkan. Adanya dugaan bahwa nasionalisme seolah-olah "digadaikan" sudah waktu nya kita gantikan dengan ungkapan yang lebih santun. Dan pandangan yang menegaskan bahwa nasionalisme hanya indah untuk diucapkan tapi tidak menarik untuk dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari, juga sudah saat nya kita ganti dengan kalimat yang lebih arif. Kita percaya bahwa warga bangsa, akan tetap menjunjung tinggi makna nasionalisme sebagaimana yang dipatrikan 20 Mei 1908 lalu. Kita yakin bahwa segenap anak bangsa tentu akan tetap mengenang, mempelajari, menghayati dan mengaktualisasikan semangat nasionalisme dalam kehidupan sekarang. Dan kita boleh optimis bahwa nasionalisme bukan "barang rongsokan" yang tidak populer lagi, tapi nasionalisme adalah kekuatan dasar dalam menjawab tantangan jaman yang selama ini tengah menggelinding. Dalam koridor berpikir yang demikian, tentu kita sepakat bahwa ruh nasionalisme harus terus-menerus ditiupkan ke dalam nurani dan jiwa bangsa !

Nasionalisme adalah "filter" yang akan mampu menyaring setiap intervensi dari pihak mana pun, yang berkehendak meruntuhkan nilai-nilai sakral yang dimiliki bangsa ini. Mari kita tetap komit dan konsisten untuk memperkokoh semangat nasionalisme yang ditopang idealisme dan patriotisme, demi kejayaan dan kemakmuran bangsa Indonesia sekarang dan masa mendatang.

Asahlah terus idealisme ! Bangkitkan terus nasionalisme dan kokohkan terus patriotisme ! Insya Allah Indonesia Raya akan semakin dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini !

Salam,

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=109017571295

Who’s the actor behind shooting incident in Papua

Shooting incident was occurred July 11 2009 and killed a Australian’s mining expert Drew Nicholas Grant , Freeport security guard, identified as Markus Rattealo and and a police officer assigned to secure the company Second Brig, Marsom Patipea, make Papua as a mysterious island. An investigation is now underway for the killing of an expatriate employee, a local security guard for the American mining company PT Freeport Indonesia and a police officer. The military has reportedly rounded up a number of people associated with a separatist rebel movement, although officials admitted that they could not have been anywhere near the incident to have been able to conduct the shooting.

The incident took place near the Mile 51 area where seven Freeport employees, including two Americans who taught at a Timika school, were killed in 2002. Although some local Papuans have been sentenced to jail for this ambush killing, the case has not been resolved fully with many questions remaining unanswered to this day.

It is questionable whether the low level intensity of guerilla warfare by the Free Papua Movement (OPM) justifies the strong military presence in the area. If anything, the tight security measures imposed are at the expense of greater transparency. The tight security blanket confirms the suspicion of many international human rights groups that the government is hiding something.

Others speculate that the tensions and conflicts in Papua are a manifestation of the rivalries and interests of different government agencies in Jakarta, including the police, the military and the business world. Whether this is true or not is no longer relevant because that image has been implanted firmly thanks to the government’s own policy.

A more open and transparent policy in Papua, even with its consequences to the security situation, is by far still the better option to pursue. Let’s hope the investigation of the latest shooting will be conducted in that spirit, for the sake of establishing justice for the victims, but more importantly for justice of the
people of Papua

Source : The Jakarta Post | Tue, 07/14/2009 9:40 AM | Opinion

Selasa, 14 Juli 2009

Waterway dan Monorail

Waterway dan Monorail

Sebuah kebijakan Pemerintah mengenai pembangunan, sudah selayaknya didukung oleh sebuah penelitian yang akurat, selain dari sisi manfaatnya, juga harus dilihat dari sisi visibilitas pengerjaan maupun visibilitas dari pembiayaan yang berkelanjutan.

Dengan demikian tidak ada lagi, kebijakan yang berlaku hanya pada saat si pencetus ide masih menjabat saja.

Hal ini perlu juga adanya aturan yang mengikat pejabat lama dan baru, jika ada penyimpangan dari program jangka panjang. Sehingga, para pejabat tidak semena-mena ingin mewujudkan ambisinya, tanpa memperhitungkan sisi visibiltasnya.

Ambisi mewujudkan ide, tanpa mempertimbangkan secara konfrehensif kepentingan rakyat banyak, juga merupakan pemborosan, yang pada akhirnya dapat pula dilihat sebagai perbuatan korupsi.

Waterway Kini Tinggal Kenangan
Mega Putra Ratya - detikNews

Jakarta - Program transportasi air atau lebih dikenal dengan sebutan waterway yang dulu pernah dibanggakan oleh Pemprov DKI telah gagal dalam pengoperasiannya. Kini, wisata angkutan air yang diluncurkan 6 Juni 2007 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, hanya meninggalkan fasilitas penunjang yang terbengkalai.

Ketika diresmikan, Sutiyoso berharap waterway dapat memenuhi kebutuhan angkutan umum alternatif yang murah dan bebas dari kemacetan. Namun harapan hanyalah tinggal harapan, yang tersisa saat ini hanya bangunan bergaya adat betawi berukuran 1x2 meter bercat hijau penuh debu dan tampak kumuh.

Dadang (37) seorang pemulung mengatakan dermaga waterway yang sudah tidak di urus sejak lama membuat semua fasilitas rusak dan tak terawat. "Udah lama dibiarin begitu doang nggak diurus. Lama-lama rusak juga," kata Dadang kepada detikcom saat ditemui di Halte Karet, Jakarta, Senin (14/7/2009).

Pantauan detikcom, di sekitar dermaga karet terlihat besi tangga yang sudah hancur dan berkarat. Air yang dangkal penuh sampah terlihat bukan hal yang aneh pada sungai Ciliwung ini. Dua buah kapal yang biasa merapat sudah tak terlihat sejak beberapa waktu lalu.

"Kalau malem ada orang yang tidur di situ. Lihat saja banyak tiker, dus dan kasur," imbuhnya.

Pemandangan serupa juga terlihat di dermaga Halimun, Jl Sultan Agung, Jakarta Pusat. Corat-coret cat semprot yang dilakukan sekelompok orang iseng membuat dermaga tersebut terlihat makin tidak nyaman.

Uni (44) warga yang tinggal di sekitar dermaga karet bercerita saat waterway masih beroperasi, kapal-kapal sering kesulitan saat akan menyusuri sungai. Jika hujan deras, akan terjadi peningkatan air. Karena air terlalu tinggi kapal tidak bisa berjalan dengan baik.

"Kalau air terlalu rendah, kapal juga tidak dapat jalan karena dasar kapal akan mentok dengan dasar sungai," tuturnya.

Transportasi air sejauh 2 kilometer ini memilki tiga dermaga yaitu Halimun, Dukuh Atas, dan Karet. Kini transportasi air yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di Jakarta hanya tinggal kenangan saja.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/07/14/205222/1165058/10/waterway-kini-tinggal-kenangan

Timika ambush death toll rises to three

Markus Makur,
A police officer was found dead Monday on a section of the road connecting Timika and PT Freeport Indonesia’s Grassberg mine in Tembagapura in Papua, after being declared missing following an attack on a convoy of police troops on Sunday.

The body of Second Brig. Marson was discovered in a ravine in Mile 64 of the road in Tembagapura district, Papua Police chief Insp. Gen. Bagus Ekodanto said Monday.

Marson was among the police personnel flanking Freeport security guards who were ambushed by a group of armed people on Sunday. Freeport security guard Markus Rante Allo was killed in the attack.

Papua Police deputy chief Brig. Gen. Riady Koni said the police found Marson’s body after sifting through the site of the ambush. They had discovered Marson’s firearms shortly after the attack. Freeport’s Australian employee Drew Nicholas Grant was killed in a separate ambush on Saturday.

Source : The Jakarta Post , Timika | Mon, 07/13/2009 | National
Proyek Bersih Parpol Hanya Slogan - AntiKorupsi.org