Jumat, 2 April 2004
Batu Ampar,- Setelah berhasil memerahkan Desa Kerawang, kembali kader dan simpatisan moncong putih memerahkan Kecamatan Batu Ampar. Pada kampanye putaran akhir itu, PDI Perjuangan, menampilkan Sujiwo A Md, Lasmono, dan Agus Sudarmawan, sebagai jurukamnya, Rabu (31/3).
Dihadapan kader dan simpatisan yang memerahkan Kecamatan Batu Ampar, Sujiwo, tetap meyanjung keberhasilan Megawati Soekarno Putri, Presiden RI sekarang.
Menurut dia, sejak Megawati duduk sebagai presiden, seluruh sektor bisa diatasi dengan bertahap.
"Kita bisa lihat sendiri bagiamana sejak Megawati menjabat sebagai presiden. Negara menjadi aman. Konflik antar etnis dan SARA, bisa diatasi dengan baik. Belum lagi pada sektor ekonomi. Dulu rupiah terpuruk. Setelah Megawati naik, rupiah kembali stabil," kata Jiwo.
Selain menyanjung keberhasilan Megawati dalam segala bidang, Sujiwo, juga mengutarakan masalah pendidikan. PDI Perjuangan, kata dia, akan memperhatikan masalah pendidikan dan kesehatan. Dua faktor itu sangat penting dalam membangun suatu daerah. Bahkan, kata dia, jika PDI Perjuangan kembali dipercaya masyarakat dan keluar sebagai pemenang pada pemilu kali ini, biaya pendidikan dan kesehatan akan gratis. "Pilihlah moncong putih. Jika PDI Perjuangan, menang maka biaya pendidikan dan kesehatan akan kita gratiskan," kata dia.
Selain menyuguhkan orasi politik pada kampanye monologis terbuka, PDI Perjuangan, juga menampilkan hiburan musik dangdut kepada kader dan simpatisannya. Penampilan artis-artis lokal, ternyata mampu menghibur kader dan simpatisan yang sudah memerahkan Kecamatan Batu Ampar.(bud)< Setelah berhasil memerahkan Desa Kerawang, kembali kader dan simpatisan moncong putih memerahkan Kecamatan Batu Ampar. Pada kampanye putaran akhir itu, PDI Perjuangan, menampilkan Sujiwo A Md, Lasmono, dan Agus Sudarmawan, sebagai jurukamnya, Rabu (31/3).
Dihadapan kader dan simpatisan yang memerahkan Kecamatan Batu Ampar, Sujiwo, tetap meyanjung keberhasilan Megawati Soekarno Putri, Presiden RI sekarang.
Menurut dia, sejak Megawati duduk sebagai presiden, seluruh sektor bisa diatasi dengan bertahap.
"Kita bisa lihat sendiri bagiamana sejak Megawati menjabat sebagai presiden. Negara menjadi aman. Konflik antar etnis dan SARA, bisa diatasi dengan baik. Belum lagi pada sektor ekonomi. Dulu rupiah terpuruk. Setelah Megawati naik, rupiah kembali stabil," kata Jiwo.
Selain menyanjung keberhasilan Megawati dalam segala bidang, Sujiwo, juga mengutarakan masalah pendidikan. PDI Perjuangan, kata dia, akan memperhatikan masalah pendidikan dan kesehatan. Dua faktor itu sangat penting dalam membangun suatu daerah. Bahkan, kata dia, jika PDI Perjuangan kembali dipercaya masyarakat dan keluar sebagai pemenang pada pemilu kali ini, biaya pendidikan dan kesehatan akan gratis. "Pilihlah moncong putih. Jika PDI Perjuangan, menang maka biaya pendidikan dan kesehatan akan kita gratiskan," kata dia.
Selain menyuguhkan orasi politik pada kampanye monologis terbuka, PDI Perjuangan, juga menampilkan hiburan musik dangdut kepada kader dan simpatisannya. Penampilan artis-artis lokal, ternyata mampu menghibur kader dan simpatisan yang sudah memerahkan Kecamatan Batu Ampar.(bud)
Sumber : http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=53271
Waspadai pengaruh Barat,Timur Tengah, dan Asia Timur
Sudah saatnya kita menggali kembali EKSISTENSI BUDAYA BANGSA KITA SENDIRI
Kearifan Lokal Leluhur Nusantara, Bukan Leluhur Barat, Bukan Leluhur Timur Tengah dan Bukan Leluhur Asia Timur
Barat Menipu Berkedok HAM, Timur Tengah Menipu Berkedok Agama, Asia Timur Menipu Berkedok Dagang
Jumat, 02 April 2004
Kamis, 16 Oktober 2003
TKI yang Jadi Korban Pemerkosaan Terus Berdatangan
TUBUH lemah itu tergolek di atas tempat tidur Rumah Sakit Polri Dr Soekanto. Wajahnya pucat pasi dan matanya sembab seperti habis menangis. Sesekali perempuan bernama Fatimah (18, bukan nama sebenarnya) menarik napas panjang.
Fatimah adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi korban pemerkosaan, yang untuk kesekian kalinya mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Ia tiba di Jakarta dalam keadaan sakit setelah diperkosa lima warga Arab di kantor agen pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) tempat dia bekerja di Arab. Sebelumnya, ada 23 TKI yang pulang dalam kondisi buruk. Sebagian mengaku diperkosa majikannya.
Dengan terbata-bata, Fatimah menceritakan deritanya ketika mengadu nasib di Arab Saudi.
Fatimah pergi ke Arab Saudi atas pengiriman PT Surya Duta Jasindo sebagai perusahaan pengerah jasa TKI. Anehnya, saat membuat paspor, nama perusahaan tempat ia berlindung berubah menjadi PT Arya Duta Bersama. "Saya disuruh mengaku dari Arya Duta," ujarnya.
Umur Fatimah pun dipalsukan menjadi lebih tua. Dalam paspor, tahun kelahiran Fatimah diubah menjadi tahun 1975, padahal ia lahir tahun 1985. Alasan perusahaan (PJTKI), banyak majikan yang mencari pembantu berumur di atas 25 tahun.
Di Arab Saudi, Fatimah mengalami penganiayaan dari majikan perempuannya. Bahkan, suatu ketika, Fatimah yang berkulit putih nyaris diperkosa anak majikannya yang masih duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).
"Saya sudah teriak-teriak, tetapi majikan saya diam saja. Padahal, mereka duduk di ruang tengah yang dekat dengan kamar tidur saya," kata Fatimah geram. Setelah percobaan pemerkosaan itu, Fatimah melarikan diri dari rumah majikannya.
Di tengah jalan Fatimah ditolong seorang sopir berkewarganegaraan Filipina dan dibawa ke kantor agen PJTKI-nya di Kota Dammam.
Namun, di kantor agen PJTKI itu, Fatimah malah diperkosa lima petugas yang bekerja di sana. Pemerkosaan dilakukan setelah petugas membelikan tiket pulang untuk Fatimah.
Sebelum tiket diberikan, Fatimah dipaksa melayani kelima petugas tersebut. Karena menolak, Fatimah dipaksa minum air putih yang diduga sudah dicampuri zat tertentu sehingga Fatimah pingsan. Saat pingsan itulah Fatimah diperkosa secara bergantian. Ketika bangun, Fatimah sudah tidak memakai baju. Hasil visum Rumah Sakit (RS) Polri Dr Soekanto Jakarta menunjukkan, Fatimah positif mengalami pemerkosaan.
AWALNYA, gadis asal Serang, Banten, itu tidak berniat pergi ke luar negeri. Ia cukup puas bekerja di sebuah rumah makan di Cikupa, Tangerang, dengan upah Rp 250.000 per bulan.
Untuk mencari tambahan, ia rela menjadi tukang cuci dengan upah Rp 5.000 hingga Rp 10.000 untuk setiap kali mencuci. Selama delapan bulan ia mengerjakan pekerjaan itu sebelum akhirnya pulang ke Serang dan disuruh ibunya menjadi TKI.
Ibunya ingin kehidupan orangtua dan kelima adik Fatimah menjadi lebih baik. Selama ini keluarga Fatimah hidup sebagai buruh tani. Pendidikan kelima adik Fatimah yang masih kecil-kecil pun nyaris telantar.
Sebagai anak sulung, Fatimah harus menanggung beban keluarga, membiayai adik-adiknya.
Sebelum ke Arab Saudi, Fatimah pernah bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Di negara itu dia selalu dipukuli majikan perempuannya. Gajinya pun cuma dibayar Rp 3 juta untuk empat bulan kerja. Padahal, menurut perjanjian, Fatimah berhak mendapat gaji Rp 2 juta per bulan.
Karena tidak tahan, Fatimah pulang dengan biaya sendiri. Harga tiket pesawat Rp 1,5 juta dia tanggung sendiri. Setibanya di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, dia harus membayar ke Induk Koperasi Polisi (Inkoppol) sebesar Rp 300.000 untuk sewa mobil ke Serang. "Sisanya cuma bisa buat beli baju untuk adik-adik," kata Fatimah.
Sampai di rumah, dia didatangi sponsor (calo) yang dulu membiayai ongkos perjalanannya ke Abu Dhabi. Fatimah didesak agar membayar Rp 2 juta kepada sponsor karena dianggap memiliki utang.
Untuk membayar utang ke sponsor, kata Fatimah, ibunya terpaksa menjual tanah warisan. Melihat Fatimah lama menganggur di rumah, orangtuanya mulai bingung. Fatimah terus didesak untuk bekerja lagi menjadi TKI. "Biar bisa bayar utang dan memperbaiki rumah yang reyot," ujar Fatimah menirukan ucapan ibunya.
LAIN lagi yang dialami Idah binti Duladi Sidi (20), TKI asal Indramayu, Jawa Barat. Sejak masuk ke RS Polri Kramat Jati 10 Oktober lalu, Idah masih kelihatan stres berat. Sering kali tatapan matanya tampak kosong. Badannya panas, sementara kaki kanannya sering gemetar.
Hingga Rabu kemarin Idah sulit diajak berkomunikasi. Kepada ibunya Idah hanya berkata disiksa majikan perempuannya. Perut Idah diinjak-injak hingga mengalami infeksi di sekitar kandung kemih. Belum bisa dipastikan apakah Idah juga menjadi korban pemerkosaan karena dia belum divisum.
Rumah sakit tersebut juga masih merawat satu pasien TKI yang mengalami depresi. Ketika dikunjungi, TKI itu sering kelihatan tertawa sendiri.
Korban lainnya, Imayah, juga mengalami depresi. Ia hanya terdiam ketika ditanyai petugas di Bandara Soekarno-Hatta. Ditanya apa pun, ia tidak memberi respons, hanya termangu-mangu dengan tatapan kosong.
Menurut data Konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi), hingga bulan September 2003 ada sekitar 150 TKI bermasalah yang ditangani Kopbumi.
Sepanjang tahun 2002, Kopbumi mencatat 1.308.765 kasus yang dihadapi TKI.
Kasus yang paling banyak dihadapi TKI adalah tidak memiliki dokumen (51,88 persen) dan dideportasi (38,58 persen). Alasan tidak memiliki dokumen biasanya disebabkan dokumen tersebut ditahan majikan atau agen PJTKI.
Pada saat bekerja di negeri orang, kata Norma dari Kopbumi, banyak TKI yang ditelantarkan, baik oleh majikan maupun agen PJTKI di tempat dia bekerja. Sesampai di sana mereka semua ditempatkan di rumah-rumah majikan tanpa diberi tahu tentang alamat yang jelas.
Agen-agen PJTKI juga tidak pernah mengontrol atau mengawasi keadaan para TKI yang dikirim ke rumah-rumah majikannya.
Sementara itu, menurut Ketua Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI) Dina Nuriyati, ketika sudah tiba di negara tujuan, banyak PJTKI yang lepas tangan. "Sukses tidaknya seorang TKI akhirnya bergantung pada nasib. Kalau dapat majikan baik, berarti ia dianggap berhasil," kata Dina.
Dina mengatakan, tidak ada mekanisme kontrol dari Pemerintah Indonesia terhadap para TKI yang bekerja di negara lain. Pemerintah tidak pernah mendeteksi keberadaan dan kondisi para TKI. "Tahu-tahu mereka pulang dalam keadaan bermasalah," kata Dina.
Meskipun kasus penganiayaan dan pemerkosaan sudah sering menimpa para TKI, belum ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengusut kasus- kasus yang dihadapi TKI.
Beberapa orang TKI bercerita, mereka direkrut dari desanya oleh orang yang mengaku siap memberikan sponsor. Sponsor yang sebenarnya calo itu kemudian memasukkan para TKI ke agen-agen PJTKI yang terdaftar. Meskipun terdaftar, ternyata pada saat penempatan TKI ke rumah majikan, banyak yang berlaku curang.
"Saya tidak pernah diberi tahu alamat dan nomor telepon rumah majikan," kata Fatimah yang ditempatkan oleh petugas dari PT Surya Duta Jasindo. Banyak teman Fatimah yang ditempatkan perusahaan tersebut kabur karena tidak betah.
NASIB buruk TKI tidak hanya dialami di negara tempat mereka bekerja. Di Tanah Air pun, sejumlah TKI diperlakukan tidak baik oleh para PJTKI. Karena itu, tak perlu heran kalau berulang kali ada peristiwa TKI kabur dari rumah penampungan.
Rumah penampungan yang seharusnya menjadi tempat mendidik para TKI bahkan lebih patut disebut penjara. Tengok saja beberapa rumah penampungan di Jakarta. Banyak rumah penampungan yang memasang jeruji besi, berpagar tembok tinggi, dan dijaga pengawal bertubuh kekar. Pengawal inilah yang bertugas menjaga dan menangkap para TKI yang kabur.
Sebenarnya tidak ada alasan bagi para TKI untuk kabur jika di rumah penampungan mereka benar-benar dididik agar mampu bersaing di luar negeri. Dalam praktiknya, rumah penampungan sering menjadi ajang pemerasan, penipuan, penelantaran, hingga pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap TKI.
Para TKI yang menjadi korban pemerkosaan umumnya harus menanggung beban mental yang lebih berat.
Karena tidak kuat menanggung malu, banyak TKI korban pemerkosaan yang nekat membuang anaknya, dengan cara menggugurkan kandungan atau menitipkan anaknya ke orang lain.
Bahkan, seorang TKI pernah diketahui membuang anaknya di jalan tol. Tanggung jawab negara tentunya dipertanyakan kembali soal yang satu ini. (LUSIANA INDRIASARI)
Sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0310/16/utama/629257.htm Kamis, 16 Oktober 2003
Fatimah adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi korban pemerkosaan, yang untuk kesekian kalinya mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Ia tiba di Jakarta dalam keadaan sakit setelah diperkosa lima warga Arab di kantor agen pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) tempat dia bekerja di Arab. Sebelumnya, ada 23 TKI yang pulang dalam kondisi buruk. Sebagian mengaku diperkosa majikannya.
Dengan terbata-bata, Fatimah menceritakan deritanya ketika mengadu nasib di Arab Saudi.
Fatimah pergi ke Arab Saudi atas pengiriman PT Surya Duta Jasindo sebagai perusahaan pengerah jasa TKI. Anehnya, saat membuat paspor, nama perusahaan tempat ia berlindung berubah menjadi PT Arya Duta Bersama. "Saya disuruh mengaku dari Arya Duta," ujarnya.
Umur Fatimah pun dipalsukan menjadi lebih tua. Dalam paspor, tahun kelahiran Fatimah diubah menjadi tahun 1975, padahal ia lahir tahun 1985. Alasan perusahaan (PJTKI), banyak majikan yang mencari pembantu berumur di atas 25 tahun.
Di Arab Saudi, Fatimah mengalami penganiayaan dari majikan perempuannya. Bahkan, suatu ketika, Fatimah yang berkulit putih nyaris diperkosa anak majikannya yang masih duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).
"Saya sudah teriak-teriak, tetapi majikan saya diam saja. Padahal, mereka duduk di ruang tengah yang dekat dengan kamar tidur saya," kata Fatimah geram. Setelah percobaan pemerkosaan itu, Fatimah melarikan diri dari rumah majikannya.
Di tengah jalan Fatimah ditolong seorang sopir berkewarganegaraan Filipina dan dibawa ke kantor agen PJTKI-nya di Kota Dammam.
Namun, di kantor agen PJTKI itu, Fatimah malah diperkosa lima petugas yang bekerja di sana. Pemerkosaan dilakukan setelah petugas membelikan tiket pulang untuk Fatimah.
Sebelum tiket diberikan, Fatimah dipaksa melayani kelima petugas tersebut. Karena menolak, Fatimah dipaksa minum air putih yang diduga sudah dicampuri zat tertentu sehingga Fatimah pingsan. Saat pingsan itulah Fatimah diperkosa secara bergantian. Ketika bangun, Fatimah sudah tidak memakai baju. Hasil visum Rumah Sakit (RS) Polri Dr Soekanto Jakarta menunjukkan, Fatimah positif mengalami pemerkosaan.
AWALNYA, gadis asal Serang, Banten, itu tidak berniat pergi ke luar negeri. Ia cukup puas bekerja di sebuah rumah makan di Cikupa, Tangerang, dengan upah Rp 250.000 per bulan.
Untuk mencari tambahan, ia rela menjadi tukang cuci dengan upah Rp 5.000 hingga Rp 10.000 untuk setiap kali mencuci. Selama delapan bulan ia mengerjakan pekerjaan itu sebelum akhirnya pulang ke Serang dan disuruh ibunya menjadi TKI.
Ibunya ingin kehidupan orangtua dan kelima adik Fatimah menjadi lebih baik. Selama ini keluarga Fatimah hidup sebagai buruh tani. Pendidikan kelima adik Fatimah yang masih kecil-kecil pun nyaris telantar.
Sebagai anak sulung, Fatimah harus menanggung beban keluarga, membiayai adik-adiknya.
Sebelum ke Arab Saudi, Fatimah pernah bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Di negara itu dia selalu dipukuli majikan perempuannya. Gajinya pun cuma dibayar Rp 3 juta untuk empat bulan kerja. Padahal, menurut perjanjian, Fatimah berhak mendapat gaji Rp 2 juta per bulan.
Karena tidak tahan, Fatimah pulang dengan biaya sendiri. Harga tiket pesawat Rp 1,5 juta dia tanggung sendiri. Setibanya di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, dia harus membayar ke Induk Koperasi Polisi (Inkoppol) sebesar Rp 300.000 untuk sewa mobil ke Serang. "Sisanya cuma bisa buat beli baju untuk adik-adik," kata Fatimah.
Sampai di rumah, dia didatangi sponsor (calo) yang dulu membiayai ongkos perjalanannya ke Abu Dhabi. Fatimah didesak agar membayar Rp 2 juta kepada sponsor karena dianggap memiliki utang.
Untuk membayar utang ke sponsor, kata Fatimah, ibunya terpaksa menjual tanah warisan. Melihat Fatimah lama menganggur di rumah, orangtuanya mulai bingung. Fatimah terus didesak untuk bekerja lagi menjadi TKI. "Biar bisa bayar utang dan memperbaiki rumah yang reyot," ujar Fatimah menirukan ucapan ibunya.
LAIN lagi yang dialami Idah binti Duladi Sidi (20), TKI asal Indramayu, Jawa Barat. Sejak masuk ke RS Polri Kramat Jati 10 Oktober lalu, Idah masih kelihatan stres berat. Sering kali tatapan matanya tampak kosong. Badannya panas, sementara kaki kanannya sering gemetar.
Hingga Rabu kemarin Idah sulit diajak berkomunikasi. Kepada ibunya Idah hanya berkata disiksa majikan perempuannya. Perut Idah diinjak-injak hingga mengalami infeksi di sekitar kandung kemih. Belum bisa dipastikan apakah Idah juga menjadi korban pemerkosaan karena dia belum divisum.
Rumah sakit tersebut juga masih merawat satu pasien TKI yang mengalami depresi. Ketika dikunjungi, TKI itu sering kelihatan tertawa sendiri.
Korban lainnya, Imayah, juga mengalami depresi. Ia hanya terdiam ketika ditanyai petugas di Bandara Soekarno-Hatta. Ditanya apa pun, ia tidak memberi respons, hanya termangu-mangu dengan tatapan kosong.
Menurut data Konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi), hingga bulan September 2003 ada sekitar 150 TKI bermasalah yang ditangani Kopbumi.
Sepanjang tahun 2002, Kopbumi mencatat 1.308.765 kasus yang dihadapi TKI.
Kasus yang paling banyak dihadapi TKI adalah tidak memiliki dokumen (51,88 persen) dan dideportasi (38,58 persen). Alasan tidak memiliki dokumen biasanya disebabkan dokumen tersebut ditahan majikan atau agen PJTKI.
Pada saat bekerja di negeri orang, kata Norma dari Kopbumi, banyak TKI yang ditelantarkan, baik oleh majikan maupun agen PJTKI di tempat dia bekerja. Sesampai di sana mereka semua ditempatkan di rumah-rumah majikan tanpa diberi tahu tentang alamat yang jelas.
Agen-agen PJTKI juga tidak pernah mengontrol atau mengawasi keadaan para TKI yang dikirim ke rumah-rumah majikannya.
Sementara itu, menurut Ketua Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI) Dina Nuriyati, ketika sudah tiba di negara tujuan, banyak PJTKI yang lepas tangan. "Sukses tidaknya seorang TKI akhirnya bergantung pada nasib. Kalau dapat majikan baik, berarti ia dianggap berhasil," kata Dina.
Dina mengatakan, tidak ada mekanisme kontrol dari Pemerintah Indonesia terhadap para TKI yang bekerja di negara lain. Pemerintah tidak pernah mendeteksi keberadaan dan kondisi para TKI. "Tahu-tahu mereka pulang dalam keadaan bermasalah," kata Dina.
Meskipun kasus penganiayaan dan pemerkosaan sudah sering menimpa para TKI, belum ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengusut kasus- kasus yang dihadapi TKI.
Beberapa orang TKI bercerita, mereka direkrut dari desanya oleh orang yang mengaku siap memberikan sponsor. Sponsor yang sebenarnya calo itu kemudian memasukkan para TKI ke agen-agen PJTKI yang terdaftar. Meskipun terdaftar, ternyata pada saat penempatan TKI ke rumah majikan, banyak yang berlaku curang.
"Saya tidak pernah diberi tahu alamat dan nomor telepon rumah majikan," kata Fatimah yang ditempatkan oleh petugas dari PT Surya Duta Jasindo. Banyak teman Fatimah yang ditempatkan perusahaan tersebut kabur karena tidak betah.
NASIB buruk TKI tidak hanya dialami di negara tempat mereka bekerja. Di Tanah Air pun, sejumlah TKI diperlakukan tidak baik oleh para PJTKI. Karena itu, tak perlu heran kalau berulang kali ada peristiwa TKI kabur dari rumah penampungan.
Rumah penampungan yang seharusnya menjadi tempat mendidik para TKI bahkan lebih patut disebut penjara. Tengok saja beberapa rumah penampungan di Jakarta. Banyak rumah penampungan yang memasang jeruji besi, berpagar tembok tinggi, dan dijaga pengawal bertubuh kekar. Pengawal inilah yang bertugas menjaga dan menangkap para TKI yang kabur.
Sebenarnya tidak ada alasan bagi para TKI untuk kabur jika di rumah penampungan mereka benar-benar dididik agar mampu bersaing di luar negeri. Dalam praktiknya, rumah penampungan sering menjadi ajang pemerasan, penipuan, penelantaran, hingga pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap TKI.
Para TKI yang menjadi korban pemerkosaan umumnya harus menanggung beban mental yang lebih berat.
Karena tidak kuat menanggung malu, banyak TKI korban pemerkosaan yang nekat membuang anaknya, dengan cara menggugurkan kandungan atau menitipkan anaknya ke orang lain.
Bahkan, seorang TKI pernah diketahui membuang anaknya di jalan tol. Tanggung jawab negara tentunya dipertanyakan kembali soal yang satu ini. (LUSIANA INDRIASARI)
Sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0310/16/utama/629257.htm Kamis, 16 Oktober 2003
Minggu, 13 Oktober 2002
Bom Bali 2002
Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian-kuta Pulau Bali. Kejadian itu mengorbankan 202 orang dan melukai 209, yang kebanyakan adalah wisatawan asing.
Banyak rakyat Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut, tetapi dalangnya yang notabene warga negara Malaysia hingga kini masih menghirup udara segar.
Bahkan mungkin sedang merencanakan pengeboman di lain tempa di Indonesia. Peristiwa ini paling tidak merugikan pariwisata di bali.
Wisatawan - wisatawan asing yang ingin pergi ke Pulau Bali, karena sudah membeli tiket, dapat dengan mudahnya menganti tujuan wisatanya ke Pulau Sipadan dan Ligitan Malaysia.
Banyak rakyat Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut, tetapi dalangnya yang notabene warga negara Malaysia hingga kini masih menghirup udara segar.
Bahkan mungkin sedang merencanakan pengeboman di lain tempa di Indonesia. Peristiwa ini paling tidak merugikan pariwisata di bali.
Wisatawan - wisatawan asing yang ingin pergi ke Pulau Bali, karena sudah membeli tiket, dapat dengan mudahnya menganti tujuan wisatanya ke Pulau Sipadan dan Ligitan Malaysia.
Rabu, 24 Juli 2002
"Banyak Bukti Kegagalan Megawati"
Rabu, 24 Juli 2002
# Prof. Dr. Arief BudimanKetua Program Indonesia Studies Melbourne University, Australia
Menyoroti setahun pemerintah Megawati Soekarnoputri, pengamat politik asal Salatiga Prof. Dr. Arief Budiman punya banyak gagasan baru. Beberapa waktu lalu, misalnya ia mengusulkan agar Megawati diganti dengan Nurcholish Majid. Di mata Ketua Program Indonesia Studies Melbourne University, Australia, Megawati gagal memimpin pemerintahan transisi. Berikut ini wawancara Ecep S. Yasa dari Tempo News Room dengan Arief Budiman dalam berbagai kesempatan:.
Bagaimana Anda menilai pemerintahan Megawati saat ini?
Bagi saya kabinet pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini tidak kompak. Faktanya sejumlah menteri jalan sendiri-sendiri.
Maksudnya?
Ya misalnya perbedaan pendapat yang tajam antara Menko Ekuin Dorodjatun Koentjorojakti dengan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie berkaitan peran IMF dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Ini merupakan contoh nyata bahwa kabinbet Megawati memang tidak lagi kompak.
Kedua pejabat itu mestinya melakukan koordinasi dengan Megawati sebagai presiden. Kalau Kwik Kain Gie tidak mau, ya ngomong di luar saja dan silakan keluar dari kabinet atau Dorojatoen dipecat saja kalau memang begitu.
Sikap Megawati sendiri akan hal ini bagaimana?
Pemerintahan Megawati, sebenarnya harus jelas mana yang harus diikuti. Jika Mega setuju dengan Dorodjatun yang memperpanjang kontrak IMF hingga 2003, maka Kwik harus dipecat. Sebaliknya kalau setuju Kiwk Kian Gie yang menolak IMF, Dorojatun yang diberhentikan. Tapi ini hanya diam dan tidak jelas sikap dan visinya apa.
Perbedaan ini apa dampaknya bagi masyarakat?
Sangat besar. Perbedaan pendapat itu berdampak buruk bagi publik luas. Tidak jelas ke arah mana negara ini akan dibawa gara-gara pertentangan tersebut. Tontonan tersebut, merupakan bukti kegagalan kepemimpinan Megawati terutama soal manajemen pemerintahan.
Bagaimana Anda menilai PDI Perjuangan saat ini?/
Bagi saya PDI Perjuangan saat ini adalah partai yang paling rusak dan kacau dibandingkan dengan partai-partai lainnya. Pasalnya partai berlambang kepala banteng itu jauh lebih mementingkan kekuasaan dari pada kepentingan nasional.
Dibandingkan dengan partai lainnya, bagaiamana?
Sebenarnya karakter dan kepentingan sama, partai-partai lainnya juga sebenarnya punya watak yang sama dengan PDIP. Namun khusus PDIP memang partai yang paling kacau diantara partai lainnya. Meski soal mementingkan kekuasaan bukan hanya menimpa PDIP, tapi juga partai-partai lain.
Kenapa bisa demikian?
Salah satu penyebabnya, karena kwalitas orang-orangnya yang sangat rendah. Sehingga yang mereka pikirkan hanyalah kekuasaan lebih dari pada kepentingan nasional. Hal ini diperburuk dengan kepimpinan Megawati yang tidak mempunyai visi yang jelas. Selain itu, di partai tersebut banyak sekali faksi-faksi yang tidak konsisten satu sama lainnya. Dalam kasus Bulog II, kekacauan PDIP ini dimanfaatkan betul oleh Partai Golkar yang memang saat ini sedang membutuhkan bantuan PDIP, maka jadilah Pansus Buloggate II tidak terbentuk.
Kalau PDIP partai yang konsisten, maka mereka akan tetap membentuk Pansus Bulog II dengan alasan apa pun. Sebab dalam Pansus Bulog I mereka ngotot karena pembetukan pansus merupakan soal prinsip memberantas korupsi. Kenyataannya, dalam Pansus Bulog II terlihat sekali bukan soal prinsip yang di kedepankan melainkan bagaimana menyelamatkan kekuasaan PDIP. Padahal dalam Pansus Buloggate II ini, masyarakat sangat jelas menginginkan pembentukan pansus. Keinginan itu misalnya terlihat dari hasil polling berbagai koran, forum diskusi dan lainnya.
Mereka telah mengkhianati rakyat yang mendukungnya?
Keinginan masyarakat dikhianati karena PDIP bekerjasama dengan Partai Golkar yang sebelumnya meminta tolong sama PDIP. Tampaknya mungkin PDIP takut Amien Rais bisa macam-macam dengan menggalang kekuatan Islam lagi dan PDIP kalau sendirian akan susah menghadapi Amien Rais, maka ketika Partai Golkar minta tolong PDIP mau dan konsekuesnsinya keselamatan Akbar Tandjung.
Selain tujuan menyelamatkan Akbar tanjung kerjasama PDIP-Partai Golkar juga dimaksudkan agar PDIP bisa berjalan terus hingga Pemilu 2004 guna menghadapi kelompok Islam dan Amien Rais. Artinya, kedua partai ini berpikir bagaimana menyelamatkan diri pada 2004.
Lalu bagaimana perkiraan Anda kerjasama politik selanjutnya setelah Pemilu 2004?
Kenyataan ini saya kira akan mebuat PDIP, Golkar dan militer akan mendominasi dalam dasawarsa ini. Karena ketigaanya benar-benar memblok Amien Rais dan memberikan peluang kepada PDIP akan besar dan menang lagi 2004. Selain itu kemenangan juga ditandai dengan sangat professional Partai Golkar untuk dengan baik keluar dari persoalan. Terutama bagaimana membersihkan diri dan menyelamatkan ketuanya Akbar Tandjung dari berbagai tuduhan korupsi. (ecep s. yasa)
Source :
Baca Selengkapnya di site KoranTempo - "Banyak Bukti Kegagalan Megawati" , atau bila sudah menghilang, bisa baca di cache server http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=DwMGAFUFAQMO
# Prof. Dr. Arief BudimanKetua Program Indonesia Studies Melbourne University, Australia
Menyoroti setahun pemerintah Megawati Soekarnoputri, pengamat politik asal Salatiga Prof. Dr. Arief Budiman punya banyak gagasan baru. Beberapa waktu lalu, misalnya ia mengusulkan agar Megawati diganti dengan Nurcholish Majid. Di mata Ketua Program Indonesia Studies Melbourne University, Australia, Megawati gagal memimpin pemerintahan transisi. Berikut ini wawancara Ecep S. Yasa dari Tempo News Room dengan Arief Budiman dalam berbagai kesempatan:.
Bagaimana Anda menilai pemerintahan Megawati saat ini?
Bagi saya kabinet pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini tidak kompak. Faktanya sejumlah menteri jalan sendiri-sendiri.
Maksudnya?
Ya misalnya perbedaan pendapat yang tajam antara Menko Ekuin Dorodjatun Koentjorojakti dengan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie berkaitan peran IMF dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Ini merupakan contoh nyata bahwa kabinbet Megawati memang tidak lagi kompak.
Kedua pejabat itu mestinya melakukan koordinasi dengan Megawati sebagai presiden. Kalau Kwik Kain Gie tidak mau, ya ngomong di luar saja dan silakan keluar dari kabinet atau Dorojatoen dipecat saja kalau memang begitu.
Sikap Megawati sendiri akan hal ini bagaimana?
Pemerintahan Megawati, sebenarnya harus jelas mana yang harus diikuti. Jika Mega setuju dengan Dorodjatun yang memperpanjang kontrak IMF hingga 2003, maka Kwik harus dipecat. Sebaliknya kalau setuju Kiwk Kian Gie yang menolak IMF, Dorojatun yang diberhentikan. Tapi ini hanya diam dan tidak jelas sikap dan visinya apa.
Perbedaan ini apa dampaknya bagi masyarakat?
Sangat besar. Perbedaan pendapat itu berdampak buruk bagi publik luas. Tidak jelas ke arah mana negara ini akan dibawa gara-gara pertentangan tersebut. Tontonan tersebut, merupakan bukti kegagalan kepemimpinan Megawati terutama soal manajemen pemerintahan.
Bagaimana Anda menilai PDI Perjuangan saat ini?/
Bagi saya PDI Perjuangan saat ini adalah partai yang paling rusak dan kacau dibandingkan dengan partai-partai lainnya. Pasalnya partai berlambang kepala banteng itu jauh lebih mementingkan kekuasaan dari pada kepentingan nasional.
Dibandingkan dengan partai lainnya, bagaiamana?
Sebenarnya karakter dan kepentingan sama, partai-partai lainnya juga sebenarnya punya watak yang sama dengan PDIP. Namun khusus PDIP memang partai yang paling kacau diantara partai lainnya. Meski soal mementingkan kekuasaan bukan hanya menimpa PDIP, tapi juga partai-partai lain.
Kenapa bisa demikian?
Salah satu penyebabnya, karena kwalitas orang-orangnya yang sangat rendah. Sehingga yang mereka pikirkan hanyalah kekuasaan lebih dari pada kepentingan nasional. Hal ini diperburuk dengan kepimpinan Megawati yang tidak mempunyai visi yang jelas. Selain itu, di partai tersebut banyak sekali faksi-faksi yang tidak konsisten satu sama lainnya. Dalam kasus Bulog II, kekacauan PDIP ini dimanfaatkan betul oleh Partai Golkar yang memang saat ini sedang membutuhkan bantuan PDIP, maka jadilah Pansus Buloggate II tidak terbentuk.
Kalau PDIP partai yang konsisten, maka mereka akan tetap membentuk Pansus Bulog II dengan alasan apa pun. Sebab dalam Pansus Bulog I mereka ngotot karena pembetukan pansus merupakan soal prinsip memberantas korupsi. Kenyataannya, dalam Pansus Bulog II terlihat sekali bukan soal prinsip yang di kedepankan melainkan bagaimana menyelamatkan kekuasaan PDIP. Padahal dalam Pansus Buloggate II ini, masyarakat sangat jelas menginginkan pembentukan pansus. Keinginan itu misalnya terlihat dari hasil polling berbagai koran, forum diskusi dan lainnya.
Mereka telah mengkhianati rakyat yang mendukungnya?
Keinginan masyarakat dikhianati karena PDIP bekerjasama dengan Partai Golkar yang sebelumnya meminta tolong sama PDIP. Tampaknya mungkin PDIP takut Amien Rais bisa macam-macam dengan menggalang kekuatan Islam lagi dan PDIP kalau sendirian akan susah menghadapi Amien Rais, maka ketika Partai Golkar minta tolong PDIP mau dan konsekuesnsinya keselamatan Akbar Tandjung.
Selain tujuan menyelamatkan Akbar tanjung kerjasama PDIP-Partai Golkar juga dimaksudkan agar PDIP bisa berjalan terus hingga Pemilu 2004 guna menghadapi kelompok Islam dan Amien Rais. Artinya, kedua partai ini berpikir bagaimana menyelamatkan diri pada 2004.
Lalu bagaimana perkiraan Anda kerjasama politik selanjutnya setelah Pemilu 2004?
Kenyataan ini saya kira akan mebuat PDIP, Golkar dan militer akan mendominasi dalam dasawarsa ini. Karena ketigaanya benar-benar memblok Amien Rais dan memberikan peluang kepada PDIP akan besar dan menang lagi 2004. Selain itu kemenangan juga ditandai dengan sangat professional Partai Golkar untuk dengan baik keluar dari persoalan. Terutama bagaimana membersihkan diri dan menyelamatkan ketuanya Akbar Tandjung dari berbagai tuduhan korupsi. (ecep s. yasa)
Source :
Baca Selengkapnya di site KoranTempo - "Banyak Bukti Kegagalan Megawati" , atau bila sudah menghilang, bisa baca di cache server http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=DwMGAFUFAQMO
Sabtu, 01 September 2001
Agama itu takdir?
Saat kita dilahirkan oleh Ibu kita, itulah mulainya takdir kita. Karena kita tidak pernah bisa memilih siapa Ibu kita.
Dari detik pertama, hingga saat-saat kita dapat memutuskan segala sesuatu dengan segenap pikiran, perasaan, dan pengetahuan, saat inilah mulai kita dapat bermain dengan nasib kita sendiri.
Tahap ini relatif pada setiap orang, tahap inilah yang disebut kedewasaan seseorang.
Melihat antara Takdir dan Nasib, jelas untuk orang yang dewasa, bahwa Takdir tidak dapat diubah atau dipilih, sedangkan nasib bisa diubah atau dipilih.
Seperti baik atau buruk, itu merupakan pilihan, seseorang dapat menjadi baik atau buruk, sesuai pilihannya sendiri.
Agama itu takdir?
Bukan, karena kita dapat memilih sesuai dengan hatinurani kita. Seperti baik atau buruk, itu merupakan pilihan.
Sampai saat ini, tidak ada agama yang dapat membuat orang jadi baik, kalau niat mereka tidak baik.
Artinya, dengan memeluk sebuah agama, tidak serta merta kita akan menjadi orang baik.
Tanpa niat yang baik, agama apapun yang dipeluk, tidak akan membuat dirinya menjadi orang baik.
Dari detik pertama, hingga saat-saat kita dapat memutuskan segala sesuatu dengan segenap pikiran, perasaan, dan pengetahuan, saat inilah mulai kita dapat bermain dengan nasib kita sendiri.
Tahap ini relatif pada setiap orang, tahap inilah yang disebut kedewasaan seseorang.
Melihat antara Takdir dan Nasib, jelas untuk orang yang dewasa, bahwa Takdir tidak dapat diubah atau dipilih, sedangkan nasib bisa diubah atau dipilih.
Seperti baik atau buruk, itu merupakan pilihan, seseorang dapat menjadi baik atau buruk, sesuai pilihannya sendiri.
Agama itu takdir?
Bukan, karena kita dapat memilih sesuai dengan hatinurani kita. Seperti baik atau buruk, itu merupakan pilihan.
Sampai saat ini, tidak ada agama yang dapat membuat orang jadi baik, kalau niat mereka tidak baik.
Artinya, dengan memeluk sebuah agama, tidak serta merta kita akan menjadi orang baik.
Tanpa niat yang baik, agama apapun yang dipeluk, tidak akan membuat dirinya menjadi orang baik.
Selasa, 01 Mei 2001
Kesalahan Fatal Gus Dur Berkongsi dengan PRD
Saiful Mujani: Kesalahan Presiden Wahid yang Fatal, Ajak Koalisi PRD
Berpolitik.com, Selasa, 01 Mei 2001, @10:03 WIB
Columbus -- Kegagalan Presiden Wahid dalam memimpin bangsa ini adalah tidak
melakukan koalisi dengan partai-partai yang mempunyai kekuatan riil. Bahkan
kesalahan besarnya adalah melakukan koalisi dengan Partai Rakyat Demokratik
(PRD).
"Gus Dur melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal, malah mengajak koalisi
PRD yang hanya mempunyai kekuatan di bawah seratus ribu. Kemudian (PRD-red)
datang ke kantor PBNU, ngomong dengan Ketua PBNU, poin politiknya apa di
situ?" tutur peneliti di PPM-IAIN Jakarta, Saiful Mujani.
Dalam dialog langsung Columbus-Jakarta, dalam acara 'Ohio Coffee Morning',
dengan Radio Jakarta News FM, Senin (30/4) ini, dengan merujuk suatu hasil
penelitian, Saiful melihat, memang ada kontinuitas keberlangsungan antara
wilayah-wilayah pendukung PKI dulu dengan partai-partai yang ada sekarang
ini.
"Kan PKI tidak ada dalam Pemilu kemarin, hasil studi itu menunjukkan, cukup
lumayan wilayah-wilayah PKI yang dulu mendukung PKI, sekarang mendukung dan
mengalihkan suaranya ke PKB," tuturnya.
Orang yang menemukan studi ini, lanjut Saiful, dipanggil ke istana oleh
Presiden Wahid untuk menjelaskan secara lebih rinci, tentang
kemungkinan-kemungkinan memperbesar masa PKB ini, di wilayah yang dulu
dikuasai oleh basis-basis PKI. "Nah, dalam konteks ini saya melihat
inclusion dari Gus Dur terhadap PRD. Walaupun dalam hal ini, terlihat
kegagalan Gus Dur dalam membaca PRD. Karena PRD gagal merepresentasikan
sentimen PKI yang lama itu."
Oleh karena itu, kalau sekarang ada semacam bergaining, agenda politiknya
harus cukup jelas. Tapi itu salah, karena apa, karena yang diajak bergaining
seperti PRD, bukan yang lain. Misalnya, mengapa tidak dengan PDIP?
"Bergaining dengan PDIP kan jelas, sederhana. Tak usah dipecat itu
Laksamana, sudah beres itu. Tak usah dipecat itu Kwik, itu kan orang-orang
kunci di PDIP," tutur kandidat Doktor di The Ohio University ini.
Dirinya juga mengingatkan bahwa, dengan demikian bukan berarti ingin
mengatakan bahwa PKB kurang bagus dalam bermain politik. "Ya, ini proses
belajar. Cuma, poin yang ingin saya katakan, koalisi-koalisi yang tidak
strategis tersebut dibangun dengan imaginasi dan halusinasi bahwa yang dulu
pendukung PKI akan memindahkan suaranya ke PKB," kritiknya. *** (ais)
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/indonesia_damai/message/5545
Berpolitik.com, Selasa, 01 Mei 2001, @10:03 WIB
Columbus -- Kegagalan Presiden Wahid dalam memimpin bangsa ini adalah tidak
melakukan koalisi dengan partai-partai yang mempunyai kekuatan riil. Bahkan
kesalahan besarnya adalah melakukan koalisi dengan Partai Rakyat Demokratik
(PRD).
"Gus Dur melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal, malah mengajak koalisi
PRD yang hanya mempunyai kekuatan di bawah seratus ribu. Kemudian (PRD-red)
datang ke kantor PBNU, ngomong dengan Ketua PBNU, poin politiknya apa di
situ?" tutur peneliti di PPM-IAIN Jakarta, Saiful Mujani.
Dalam dialog langsung Columbus-Jakarta, dalam acara 'Ohio Coffee Morning',
dengan Radio Jakarta News FM, Senin (30/4) ini, dengan merujuk suatu hasil
penelitian, Saiful melihat, memang ada kontinuitas keberlangsungan antara
wilayah-wilayah pendukung PKI dulu dengan partai-partai yang ada sekarang
ini.
"Kan PKI tidak ada dalam Pemilu kemarin, hasil studi itu menunjukkan, cukup
lumayan wilayah-wilayah PKI yang dulu mendukung PKI, sekarang mendukung dan
mengalihkan suaranya ke PKB," tuturnya.
Orang yang menemukan studi ini, lanjut Saiful, dipanggil ke istana oleh
Presiden Wahid untuk menjelaskan secara lebih rinci, tentang
kemungkinan-kemungkinan memperbesar masa PKB ini, di wilayah yang dulu
dikuasai oleh basis-basis PKI. "Nah, dalam konteks ini saya melihat
inclusion dari Gus Dur terhadap PRD. Walaupun dalam hal ini, terlihat
kegagalan Gus Dur dalam membaca PRD. Karena PRD gagal merepresentasikan
sentimen PKI yang lama itu."
Oleh karena itu, kalau sekarang ada semacam bergaining, agenda politiknya
harus cukup jelas. Tapi itu salah, karena apa, karena yang diajak bergaining
seperti PRD, bukan yang lain. Misalnya, mengapa tidak dengan PDIP?
"Bergaining dengan PDIP kan jelas, sederhana. Tak usah dipecat itu
Laksamana, sudah beres itu. Tak usah dipecat itu Kwik, itu kan orang-orang
kunci di PDIP," tutur kandidat Doktor di The Ohio University ini.
Dirinya juga mengingatkan bahwa, dengan demikian bukan berarti ingin
mengatakan bahwa PKB kurang bagus dalam bermain politik. "Ya, ini proses
belajar. Cuma, poin yang ingin saya katakan, koalisi-koalisi yang tidak
strategis tersebut dibangun dengan imaginasi dan halusinasi bahwa yang dulu
pendukung PKI akan memindahkan suaranya ke PKB," kritiknya. *** (ais)
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/indonesia_damai/message/5545
Langganan:
Postingan (Atom)